Wajib Militer Picu Perdagangan Manusia Masif di Myanmar: Warga Dijual ke Militer Senilai $3.800 per Orang

Krisis perdagangan manusia di Myanmar

Wajib Militer Picu Perdagangan Manusia Masif di Myanmar: Warga Dijual ke Militer Senilai $3.800 per Orang

YANGON — Undang-undang wajib militer Myanmar telah berubah menjadi pasar perdagangan manusia di mana warga muda rutin diculik dan dijual, menurut laporan terbaru. Lonjakan klip media sosial menunjukkan anggota keluarga yang putus asa memohon bantuan biksu yang terkait militer untuk membebaskan tahanan wajib militer.

Kasus yang Terungkap

Dalam sebuah kasus terbaru, Ko Kyaw Kyaw Aung, seorang ayah tiga anak, diculik dari rumahnya di Township Dagon Utara, Wilayah Yangon, oleh administrator rezim lokal minggu lalu. Keluarganya mendatangi biksu terkemuka U Parmaukkha, mantan pemimpin ultranasionalis Ma Ba Tha (Association for the Protection of Race and Religion), untuk memohon intervensinya.

Berdasarkan video yang diposting di akun media sosial sang biksu, administrator Ward 50, U Hla Sein, telah menjual korban kepada militer seharga 8 juta kyat (sekitar $3.800). U Parmaukkha mencatat bahwa meskipun wajib militer paksa kini legal, ketidakadilan merajalela di tingkat akar rumput.

Pasar Gelap Pengganti Wajib Militer

Orang-orang kaya yang terdaftar untuk wajib militer juga merekrut orang lain sebagai pengganti, menciptakan pasar gelap di mana pengganti dibayar antara 10 juta hingga 18 juta kyat. Perekrutan paksa baru-baru ini meningkat di kota-kota besar seperti Yangon dan Mandalay, serta di wilayah yang masih berada di bawah kendali militer.

Penduduk lokal melaporkan lonjakan penangkapan di rumah dengan dalih pendaftaran tamu semalam, penculikan paksa, dan pejabat berpakaian biasa yang menarik orang dari jalanan. Insiden ini dikaitkan dengan administrator ward dan desa yang bekerja sama dengan milisi Pyu Saw Htee dan geng pro-rezim lokal yang bertindak sebagai "kelompok keamanan publik."

"Saat ini, undang-undang wajib militer digunakan untuk memicu pasar penyelundupan manusia yang besar," kata seorang penduduk Mandalay. "Di masa-masa gelap ini, kelas pekerja harus waspada tinggi hanya untuk bepergian ke dan dari tempat kerja."

Sumber: The Irrawaddy, 25 Mei 2026

Post a Comment

0 Comments