Remaja Prancis Didakwa di Singapura Karena Video Viral
SINGAPURA — Seorang remaja berkewarganegaraan Prancis berusia 18 tahun resmi didakwa di Pengadilan Negara Singapura (State Courts of Singapore) pada 30 April 2026, setelah video yang menunjukkan dirinya menjilat sedotan dari mesin penjual otomatis (vending machine) menjadi viral di TikTok dan Instagram Reels.
Insiden yang terjadi di kawasan Orchard Road ini memicu gelombang kecaman publik dan menjadi sorotan media internasional. Kementerian Dalam Negeri Singapura (MHA) menyatakan bahwa tindakan tersebut melanggar Undang-Undang Lingkungan Masyarakat terkait perilaku yang mengganggu ketertiban umum.
Dakwaan dan Sanksi yang Dihadapi
Remaja yang identitasnya tidak disebutkan karena pertimbangan hukum tersebut didakwa di bawah Section 298A Penal Code Singapura yang mengatur perbuatan yang berpotensi memicu gangguan ketertiban. Ia juga menghadapi tudungan pelanggaran di bawah Environmental Public Health Act yang melarang perilaku tidak higienis di ruang publik.
Jika dinyatakan bersalah, terdakwa berpotensi menghadapi denda hingga SGD 2.000 (sekitar RP 23 juta) atau hukuman penjara hingga 3 bulan. Kedutaan Besar Prancis di Singapura telah memberikan bantuan konsuler dan memantau jalannya proses hukum.
Reaksi Netizen dan Konteks Budaya Singapura
Kasus ini memicu perdebatan sengit di platform media sosial. Di X (Twitter), warganet terbagi antara yang menganggap hukuman terlalu keras dan yang berpendapat bahwa Singapura memang dikenal dengan regulasi ketat terhadap perilaku publik.
Professor Tan Tai Yong dari Universitas Nasional Singapura (NUS) menjelaskan bahwa kasus ini mencerminkan perbedaan persepsi budaya antara negara-negara Barat dan Asia Tenggara mengenai norma ruang publik. Singapura, yang dikenal sebagai "kota paling bersih di dunia", memiliki sejarah panjang penegakan hukum ketat terhadap perilaku yang dianggap melanggar tata krama publik, mulai dari larangan mengunyah permen karet hingga sanksi bagi pembuang sampah sembarangan.
Sumber: MSN, State Courts of Singapore, April 2026
0 Comments