Prabowo dan PM Kanada Mark Carney Bahas Kerja Sama Ekonomi Pasca Penandatanganan ICA-CEPA

Pertemuan Prabowo dan Mark Carney

Indonesia dan Kanada Perkuat Kerja Sama Ekonomi Melalui ICA-CEPA

JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney membahas peluang kerja sama baru yang muncul pasca penandatanganan Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) dalam percakapan telepon pada Sabtu (6/6/2026).

Hal ini disampaikan oleh Duta Besar Kanada Jess Dutton dalam acara media pada Rabu, sebagaimana dilaporkan ANTARA News dan Tempo.co.

ICA-CEPA: Perjanjian Perdagangan Pertama Kanada dengan Negara ASEAN

ICA-CEPA merupakan perjanjian perdagangan bilateral pertama Kanada dengan negara ASEAN. Perjanjian komprehensif ini ditandatangani oleh perwakilan Indonesia dan Kanada di Ottawa pada 24 September 2025, dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo dan PM Carney.

"Perdana menteri dan presiden mengidentifikasi peluang untuk memperdalam hubungan perdagangan dan investasi antara Kanada dan Indonesia, termasuk dalam konteks ICA-CEPA," ujar Dubes Dutton.

Manfaat Ekonomi yang Signifikan

Setelah ICA-CEPA diterapkan sepenuhnya, ekspor Kanada ke Indonesia — termasuk gandum, potasium, kayu, dan kedelai — akan menjadi jauh lebih mudah dan kompetitif. Perjanjian ini memberikan pengurangan atau penghapusan tarif untuk lebih dari 95 persen ekspor Kanada saat ini ke Indonesia.

Implementasi ICA-CEPA diperkirakan akan mendorong ekspor Indonesia ke Kanada mencapai US$11,8 miliar pada tahun 2030, mendukung pertumbuhan PDB Indonesia sebesar 0,12 persen, dan meningkatkan investasi domestik sebesar 0,38 persen.

Parlemen Kanada telah menyelesaikan proses ratifikasi ICA-CEPA bulan lalu. Kanada kini menunggu proses di Jakarta selesai, dan berharap perjanjian ini berlaku sebelum akhir tahun 2026.

Selain ICA-CEPA, kedua pemimpin juga membahas perkembangan Canada-ASEAN Free Trade Agreement yang ditargetkan selesai tahun ini, serta dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar energi dan ekonomi global.

Sumber: ANTARA News, Tempo.co English, EconoTimes

Post a Comment

0 Comments