Krisis Nikel Indonesia: Tambang Weda Bay Tutup, 11.700 Pekerja Terancam PHK

Pertambangan nikel Indonesia

PT Weda Bay Nickel Hentikan Operasi Setelah Kuota Produksi Habis

JAKARTA — Posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia menghadapi ujian serius setelah PT Weda Bay Nickel (WBN), salah satu tambang nikel terbesar di dunia, menghentikan operasi penambangan setelah kuota produksi 2026 habis pada akhir Mei.

Perusahaan tambang raksasa Prancis Eramet, yang merupakan pemegang saham utama WBN, memperingatkan bahwa hingga 65% tenaga kerja bisa terdampak jika pemerintah Indonesia tidak menyetujui revisi kuota produksi. Dari total sekitar 18.000 pekerja langsung dan tidak langsung, sekitar 11.700 orang terancam kehilangan pekerjaan.

Kuota 12 Juta Ton Habis dalam 5 Bulan

CEO Eramet Indonesia, Jerome Baudelet, yang berbicara di sela-sela Indonesia Critical Mineral Conference di Jakarta, mengatakan alokasi produksi 2026 sebesar 12 juta ton sudah sepenuhnya ditambang pada akhir Mei, memaksa perusahaan menerapkan program care-and-maintenance.

"Pada akhir 2025, hampir 18.000 orang bekerja langsung atau tidak langsung untuk Weda Bay Nickel. Selama fase care-and-maintenance, tenaga kerja akan perlu dikurangi sekitar 65%," kata Baudelet.

Dampak Berantai ke Industri Hilir

Penutupan ini juga mengancam pasokan bijih ke ekosistem pengolahan nikel Indonesia, termasuk kawasan industri dan smelter yang sangat bergantung pada bahan baku dari Weda Bay. Eramet telah mengusulkan peningkatan kuota produksi 2026 menjadi 42 juta ton, menyamai tingkat output 2025.

Situasi ini terjadi di tengah kekhawatiran meluas di sektor pertambangan atas kebijakan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya) yang dinilai menciptakan ketidakpastian regulasi. Kamar Dagang China di Indonesia (CCCI) bahkan mengambil langkah tidak biasa dengan menyurati pemerintah terkait iklim investasi yang memburuk.

Sumber: AsiaToday, The Jakarta Post, Forbes — Juni 2026

Post a Comment

0 Comments