Sri Lanka Jadi Basis Baru Sindikat Penipuan Online Asia
KOLOMBO — Gelombang penindakan besar-besaran terhadap jaringan penipuan siber (scam) di Asia Tenggara mendorong sindikat kriminal ini berpindah ke Sri Lanka. Otoritas setempat khawatir pulau tersebut kini menjadi pusat baru kejahatan siber regional.
Sejak awal tahun 2026, kepolisian Sri Lanka telah menangkap lebih dari 1.000 warga asing — sebagian besar dari China, Vietnam, dan India — atas dugaan keterlibatan dalam kejahatan siber. Jumlah ini melonjak drastis dibandingkan 430 kasus sepanjang 2024, menurut juru bicara kepolisian Fredrick Wootler.
Dampak Penindakan di Asia Tenggara
Perpindahan ini terjadi setelah kampanye penindakan intensif di Kamboja dan Myanmar, yang selama ini dikenal sebagai pusat compound penipuan. Sindikat-sindikat ini memaksa korban — baik pekerja sukarela maupun korban perdagangan manusia — untuk menjalankan operasi penipuan melalui platform investasi kripto palsu, hubungan asmara palsu, dan perjudian online.
Bulan lalu, Bea Cukai Sri Lanka juga menggagalkan upaya penyelundupan ratusan ponsel dan laptop bekas oleh 9 warga negara China, yang diduga akan digunakan untuk operasi penipuan berskala besar.
Target Korban dan Kerugian
Jaringan yang beroperasi di Sri Lanka menargetkan korban di seluruh Asia, termasuk di India, Vietnam, dan Filipina. Namun, kekhawatiran muncul bahwa warga Sri Lanka sendiri bisa menjadi target berikutnya. Otoritas juga sedang menyelidiki keterlibatan sindikat asing dalam serangan siber terhadap Kementerian Keuangan Sri Lanka yang mengakibatkan kerugian sekitar US$2,5 juta.
Kedutaan Besar China di Kolombo mengakui peningkatan aktivitas ilegal di Sri Lanka setelah operasi penindakan di Kamboja, Myanmar, dan Uni Emirat Arab, serta berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama dengan aparat Sri Lanka.
Sumber: The Jakarta Post, Straits Times, Asian News Network — Mei 2026
0 Comments