
Kampanye Anti-Narkotika Empat Negara Asia Tenggara: Vietnam, China, Laos, dan Myanmar Gelar Operasi Besar Tiga Bulan
JAKARTA, DiaryAsia — Empat negara Asia Tenggara, yaitu Vietnam, China, Laos, dan Myanmar, meluncurkan kampanye anti-narkotika bersama yang berlangsung selama tiga bulan, dimulai sejak awal Juni 2026. Operasi besar-besaran ini bertujuan untuk membongkar jaringan perdagangan narkoba lintas batas yang semakin merajalela di kawasan tersebut.
Kerja sama quadrilateral ini diumumkan secara resmi pada 6 Juni 2026 melalui konferensi pers bersama yang dihadiri oleh perwakilan lembaga penegak hukum dari keempat negara. Masing-masing negara akan mengerahkan sumber daya kepolisian dan militer untuk menggerebek jalur penyelundupan narkoba yang selama ini beroperasi di perbatasan.
Fokus pada Segitiga Emas
Operasi ini secara khusus menargetkan kawasan Segitiga Emas — wilayah perbatasan antara Laos, Myanmar, dan Thailand yang selama puluhan tahun dikenal sebagai salah satu pusat produksi opium dan sabu terbesar di dunia. Menurut data Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan (UNODC), produksi metamfetamin di kawasan ini meningkat hingga 30% dalam dua tahun terakhir.
Jenderal Tran Van Hung dari Kementerian Keamanan Publik Vietnam menyatakan bahwa kampanye ini bukan sekadar operasi rutin. "Kami bergerak untuk menghancurkan jaringan, bukan hanya menangkap pengecer kecil. Ini tentang memutus rantai pasokan dari hulu ke hilir," tegasnya.
Dukungan Internasional
Kampanye ini mendapat dukungan dari ASEANAPOL (Badan Kerja Sama Kepolisian ASEAN) dan UNODC. Direktur Eksekutif UNODC, Ghada Fathi Waly, menyatakan bahwa kerja sama regional seperti ini sangat penting mengingat jaringan narkoba semakin sophisticated dalam modus operandi mereka.
Myanmar, yang sedang mengalami ketidakstabilan politik sejak kudeta 2021 oleh Dewan Administrasi Negara (SAC) di bawah pimpinan Senior General Min Aung Hlaing, menghadapi tantangan khusus. Produksi opium di Myanmar tercatat meningkat drastis — menurut laporan UNODC 2025, negara ini kini menyumbang sekitar 40% dari total produksi opium global.
Operasi tiga bulan ini akan mencakup patroli bersama di perbatasan, operasi penggerebekan simultan, dan pertukaran intelijen secara real-time. Hasil operasi akan dievaluasi pada pertemuan tingkat menteri di Hanoi pada September 2026.
Sumber: The Star, UNODC, ASEANAPOL
0 Comments