Jepang dan Korea Selatan Gelar Latihan Naval SAREX Pertama dalam 9 Tahun, Tanda Membaiknya Hubungan Bilateral

Latihan militer laut Jepang Korea Selatan

Jepang dan Korea Selatan Sambung Kembali Latihan SAREX Setelah 9 Tahun Vakum

TOKYO, 10 Juni 2026 — Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) dan Republic of Korea Navy (ROKN) melaksanakan latihan Search and Rescue Exercise (SAREX) bilateral di sebelah barat Kepulauan Goto, Jepang, pada Sabtu (7/6/2026). Latihan ini merupakan yang pertama kalinya sejak tahun 2017, menandai membaiknya hubungan pertahanan antara kedua negara.

Langkah Strategis di Tengah Ancaman Korea Utara

Latihan SAREX ini melibatkan kapal perusak JMSDF dan kapal perang ROKN yang melakukan simulasi pencarian dan penyelamatan di laut. Kegiatan ini dipandang sebagai sinyal positif kerja sama keamanan trilateral antara Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, dalam pernyataannya menyambut baik latihan ini sebagai "langkah konkret menuju stabilisasi keamanan regional." Sementara itu, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung juga menyoroti pentingnya dialog pertahanan bilateral dalam menghadapi ancaman rudal Korea Utara dan dinamika keamanan di Laut China Timur.

Sejarah Hubungan yang Sempat Membeku

Hubungan militer Jepang-Korea Selatan sempat membeku selama hampir satu dekade akibat sengketa historis, termasuk isu perempuan penghibur (comfort women) masa Perang Dunia II dan klaim teritorial atas Pulau Takeshima/Dokdo. Kerja sama pertahanan mulai mencair setelah kunjungan PM Takaichi ke Daegu, Korea Selatan, pada Mei 2026.

Menlu Korea Selatan, Cho Tae-yul, menyatakan bahwa kedua negara berkomitmen untuk memperdalam dialog strategis. "SAREX bukan sekadar latihan teknis — ini adalah fondasi kepercayaan yang akan menopang keamanan bersama di Asia Timur," ujarnya.

Analis pertahanan dari CSIS (Center for Strategic and International Studies), Bonnie Glaser, menilai bahwa pemulihan kerja sama ini sangat krusial di tengah eskalasi militer Tiongkok di Laut China Selatan dan pengembangan senjata nuklir Korea Utara.

Sumber: Naval News, Reuters, Christian Science Monitor

Post a Comment

0 Comments