EcoPro Korea Selatan Ekspansi Smelter Nikel Indonesia Senilai USD 967 Juta: 65.000 Ton Hak Pasokan Diamankan

Fasilitas industri smelter nikel

Proyek Senilai USD 967 Juta di Sulawesi

Perusahaan baterai asal Korea Selatan, EcoPro Co., Ltd., mengumumkan ekspansi besar-besaran fasilitas smelter nikel di Indonesia melalui proyek senilai USD 967 juta (sekitar Rp 15,7 triliun). Proyek ini akan memperluas kapasitas pemurnian nikel di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, dan mengamankan hak pasokan nikel sebesar 65.000 metrik ton per tahun.

CEO EcoPro, Lee Dong-cheol, menyatakan dalam konferensi pers di Seoul bahwa ekspansi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengamankan pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik (EV). "Indonesia adalah kunci rantai pasok nikel global. Investasi ini memastikan posisi EcoPro dalam transisi energi global," ujar Lee.

Posisi Indonesia dalam Rantai Pasok EV Global

Indonesia saat ini menyimpan cadangan nikel terbesar dunia, diperkirakan mencapai 21 juta metrik ton menurut data United States Geological Survey (USGS). Pemerintah Indonesia di bawah Presiden Prabowo Subianto terus mendorong hilirisasi nikel melalui larangan ekspor bijih nikel mentah yang telah berlaku sejak 2020.

Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, menyambut positif investasi EcoPro dan menyatakan bahwa proyek ini akan menciptakan sekitar 3.000 lapangan kerja baru di Morowali. "Investasi ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat produksi baterai EV global," kata Rosan.

Persaingan Global untuk Nikel Indonesia

EcoPro bersaing dengan raksasa baterai lainnya seperti CATL (China), LG Energy Solution (Korea Selatan), dan Contemporary Amperex Technology dalam memperebutkan akses ke nikel Indonesia. Tahun 2025, CATL telah mengoperasikan pabrik smelter nikel senilai USD 6 miliar di Halmahera, Maluku Utara.

Analisis dari Wood Mackenzie memproyeksikan permintaan nikel untuk baterai EV akan meningkat empat kali lipat pada tahun 2030. Dengan ekspansi ini, EcoPro berupaya menempatkan diri sebagai pemain kunci dalam memenuhi lonjakan permintaan tersebut, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pasokan nikel dari Filipina dan Kaledonia Baru.

Post a Comment

0 Comments