China dan Rusia Gelar Patroli Bomber Gabungan ke-11 di Pasifik, Korsel Kerahkan Jet Tempur

Patroli Bomber China-Rusia

SEOULTiongkok dan Rusia kembali melaksanakan patroli udara strategis gabungan ke-11 di atas Laut Jepang, Laut China Timur, dan kawasan Pasifik Barat pada akhir Juni 2026. Operasi militer ini memicu respons langsung dari Korea Selatan yang mengerahkan jet tempur untuk mencegat pesawat-pesawat bomber tersebut.

Detail Operasi Militer

Menurut keterangan resmi Kementerian Pertahanan Korea Selatan, sejumlah pesawat bomber strategis Tupolev Tu-95MS Bear milik Rusia dan Xian H-6 milik Tiongkok terdeteksi memasuki zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ) Korea Selatan. Korsel segera mengerahkan jet tempur F-15K Slam Eagle dan KF-21 Boramae untuk melakukan pencegatan.

Ini merupakan patroli gabungan ke-11 yang dilakukan oleh kedua negara sejak 2019, menandakan semakin dalamnya kerjasama militer antara Beijing dan Moskow di tengah ketegangan geopolitik global.

Respons dari Jepang dan AS

Kementerian Pertahanan Jepang juga melaporkan bahwa pesawat-pesawat bomber tersebut terdeteksi melewati wilayah udara di dekat Kepulauan Ryukyu. Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF) mengerahkan jet tempur F-35A Lightning II untuk mengawal pesawat-pesawat tersebut keluar dari wilayah yang dipersoalkan.

Pangkalan Militer AS di Guam dan Okinawa juga dilaporkan meningkatkan kesiagaan selama operasi berlangsung. Latihan militer gabungan Valiant Shield 2026 yang sedang berlangsung di Kepulauan Mariana dan Guam menambah sensitivitas situasi di kawasan tersebut.

Konteks Geopolitik

Patroli gabungan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan terkait isu Laut China Selatan dan Taiwan. Para analis militer menilai bahwa operasi ini merupakan sinyal politik dari Beijing dan Moskow bahwa kedua negara siap untuk memproyeksikan kekuatan militer secara bersamaan di kawasan Indo-Pasifik.

"Ini bukan sekadar latihan militer biasa," kata Prof. Narushige Michishita dari National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) di Tokyo. "Ini adalah pesan strategis bahwa aliansi militer Tiongkok-Rusia semakin solid dan mereka memiliki kemampuan untuk melakukan operasi gabungan dalam skala besar."

Kementerian Luar Negeri Tiongkok membela patroli tersebut sebagai "kegiatan rutin yang tidak ditujukan kepada pihak ketiga," sementara Rusia menyebutnya sebagai "bagian dari rencana kerjasama militer tahunan."

Post a Comment

0 Comments