Kolom Cybercrime Berpindah dari Kamboja dan Myanmar ke Sri Lanka
COLOMBO — Lonjakan penangkapan tersangka pelaku scam asing di Sri Lanka memicu kekhawatiran bahwa pulau tersebut sedang menjadi hub baru kejahatan online Asia. Gelombang ini terjadi setelah operasi penumpasan besar-besaran di Kamboja dan Myanmar.
Lebih dari 1.000 Penangkapan Sejak Awal Tahun
Sejak awal tahun 2026, kepolisian Sri Lanka telah menangkap lebih dari 1.000 orang asing, terutama dari China, Vietnam, dan India, terkait dugaan keterlibatan dalam cybercrime. Angka ini melonjak tajam dari 430 penangkapan sepanjang tahun 2024, kata juru bicara polisi Fredrick Wootler.
Dalam satu malam pekan ini, polisi menggelar lima razia di distrik pesisir Galle dan Matara, menangkap 192 tersangka asal India dan 29 warga Nepal. Sebanyak 280 tersangka asing lainnya ditangkap minggu lalu di dekat ibukota Colombo, dan 135 warga negara China ditangkap pada Maret di sebuah pusat scam tunggal.
Target Korban Menyeluruh di Asia
Para pejabat mengatakan jaringan yang beroperasi di Sri Lanka menargetkan korban di seluruh Asia, termasuk di India, Vietnam, dan Filipina. Namun, kekhawatiran utama adalah warga Sri Lanka bisa menjadi target berikutnya.
Pada bulan lalu, petugas bea cukai Sri Lanka mencegat sembilan warga negara China yang mencoba menyelundupkan ratusan ponsel dan laptop bekas, menimbulkan kecurigaan bahwa peralatan tersebut akan digunakan dalam operasi penipuan skala besar.
Visa Longgar dan Internet Cepat: Daya Tarik Sindikat
Jaringan kriminal yang terusir dari Myanmar dan Kamboja memanfaatkan rezim visa turis 30 hari Sri Lanka untuk warga dari lebih dari 40 negara, termasuk India dan China. Geng-geng kriminal mendirikan operasi di berbagai tempat mulai dari vila mewah hingga gedung perkantoran.
Kedutaan Besar China di Colombo mengakui tren ini, menyatakan bahwa aktivitas ilegal di Sri Lanka meningkat setelah tindakan penegakan hukum di Kamboja, Myanmar, dan UEA. Beijing berkomitmen untuk bekerja sama lebih erat dengan otoritas penegakan hukum Sri Lanka.
Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini memperkirakan setidaknya 300.000 orang telah diperdagangkan ke kompleks scam di Asia Tenggara.
Sumber: AFP, ABC News Australia, Asianews Network, Free Malaysia Today
0 Comments