Filipina Pacu Rencana Infrastruktur AI Senilai US$34,4 Miliar Guna Membangun Pusat Data Berkapasitas 1,5 GW
Ambisi Besar Manila Menjadi Gerbang Utama Pusat Data Hyperscale Asia Tenggara
MANILA — Pemerintah Filipina secara resmi memaparkan peta jalan komprehensif pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) bernilai US$34,4 miliar (sekitar Rp530 triliun) yang ditargetkan rampung bertahap hingga tahun 2033. Proyek berskala raksasa ini bertujuan membangun fasilitas pusat data berkapasitas daya hingga 1,5 gigawatt (GW), menjadikan Filipina salah satu pasar komputasi data dengan pertumbuhan paling agresif di kawasan Asia Pasifik.
Menteri Departemen Teknologi Informasi dan Komunikasi (DICT) Filipina, Ivan John Uy, menegaskan dalam paparan resminya di Manila bahwa inisiatif ini dirancang untuk mendiversifikasi pilar ekonomi digital negara kepulauan tersebut. Langkah ini sekaligus menjadi evolusi bagi industri Business Process Outsourcing (BPO) Filipina yang bernilai puluhan miliar dolar agar bertransformasi menjadi sektor layanan bernilai tambah tinggi berbasis komputasi AI lanjutan.
Minat Investor Global dan Pengembangan Koridor Teknologi Luzon
Keseriusan Filipina dalam menyediakan iklim investasi teknologi tinggi berhasil menarik perhatian perusahaan raksasa hyperscaler asal Amerika Serikat dan Asia Timur. Saat ini, dua konsorsium teknologi global sedang melakukan uji kelayakan lokasi untuk pembangunan kampus pusat data Tier III dan Tier IV di kawasan Clark Special Economic Zone di Pampanga serta kawasan pertumbuhan Laguna Technopark.
Pasar kolokasi data Filipina, yang menurut laporan ResearchAndMarkets diproyeksikan melonjak dari US$212 juta pada tahun 2025 menjadi US$800 juta pada awal dekade berikutnya, mendapat dukungan kuat dari operator telekomunikasi lokal seperti PLDT Enterprise dan Globe Telecom. Kedua entitas telekomunikasi tersebut giat memperluas kapasitas kabel serat optik bawah laut internasional untuk menghubungkan Manila secara langsung ke jaringan internet berkecepatan tinggi di Amerika Utara dan Jepang.
Integrasi Pasokan Listrik Terbarukan untuk Fasilitas Komputasi Hijau
Tantangan utama ketersediaan pasokan listrik bagi fasilitas data center dijawab melalui kolaborasi erat dengan perusahaan pengembang energi terbarukan lokal, termasuk ACEN Corporation dan Terra Solar Philippines. Pembangkit listrik tenaga surya berkapasitas 3,5 GW yang dilengkapi sistem penyimpanan energi baterai (BESS) terintegrasi disiapkan guna memastikan operasional pusat data di Luzon ditenagai 100 persen oleh sumber energi bersih tanpa membebani jaringan listrik perumahan.
Dengan regulasi perlindungan data yang diperketat oleh Komisi Privasi Nasional (NPC) Filipina dan insentif fiskal khusus dari Otoritas Zona Ekonomi Filipina (PEZA), negara ini optimis mampu bertransformasi dari sekadar konsumen teknologi menjadi penyedia infrastruktur digital krusial bagi perekonomian digital ASEAN.
Post a Comment for "Filipina Pacu Rencana Infrastruktur AI Senilai US$34,4 Miliar Guna Membangun Pusat Data Berkapasitas 1,5 GW"