Sri Lanka Menjadi Surga Baru Penipuan Online Asia
KOLOMBO — Sri Lanka kini menghadapi lonjakan signifikan dalam kejahatan siber setelah jaringan penipuan internasional yang sebelumnya beroperasi di Kamboja dan Myanmar mulai memindahkan basis operasi mereka ke negara pulau tersebut. Para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa pergeseran ini menciptakan ancaman baru bagi kawasan Asia Selatan.
Mengapa Sri Lanka Menjadi Target?
Menurut laporan The Guardian pada 16 Juni 2026, jaringan kriminal memilih Sri Lanka karena beberapa faktor strategis. Pertama, kemudahan mendapatkan visa turis yang memungkinkan pelaku kejahatan masuk dan beroperasi dengan relatif bebas. Kedua, regulasi yang terbatas terhadap kartu SIM dan koneksi internet di Sri Lanka memberikan celah yang dimanfaatkan sindikat scam untuk menjalankan operasi mereka.
Pejabat dari CID Sri Lanka (Criminal Investigation Department) mengungkapkan bahwa mereka telah mengidentifikasi beberapa pusat operasi scam di area Colombo dan suburb sekitarnya. Sindikat-sindikat ini dilaporkan menjalankan berbagai jenis penipuan, termasuk romance scam, investment fraud, dan crypto scam yang menargetkan korban di Eropa, Amerika Serikat, dan Australia.
Dampak Ekonomi dan Keamanan
Kepala Badan Keamanan Siber Sri Lanka, Brigadier Ruwan Abeysekera, menyatakan bahwa pemerintah telah membentuk satuan tugas khusus untuk menangani masalah ini. "Kami bekerja sama dengan Interpol dan ASEANAPOL untuk melacak jaringan ini. Kolaborasi internasional sangat krusial karena operasi ini bersifat transnasional," ujarnya dalam konferensi pers di Markas Kepolisian Colombo.
Pakar keamanan siber dari Universitas Colombo, Profesor Nilanka Wickremasinghe, menambahkan bahwa Sri Lanka membutuhkan kerangka hukum yang lebih kuat. "Undang-undang kejahatan siber kita belum memadai untuk menangani skala operasi yang dilakukan sindikat-sindikat ini. Kita perlu reformasi legislatif segera," jelasnya.
Sumber: The Guardian, CID Sri Lanka, Universitas Colombo
0 Comments