Rupiah Indonesia Tembus Rp18.000 Per Dolar AS: Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga di Tengah Krisis Mata Uang Terparah 2026
Jakarta — Mata uang rupiah Indonesia menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya dalam sejarah, mencatatkan rekor terendah di angka Rp18.047 pada Rabu, 4 Juni 2026. Bursa saham Indonesia anjlok hampir empat persen dan telah kehilangan sepertiga nilainya sepanjang tahun 2026.
Langkah Darurat Bank Indonesia
Merespons tekanan yang terus meningkat, Bank Indonesia mengumumkan kenaikan suku bunga mendadak sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen pada Senin, 9 Juni 2026 — lebih dari seminggu sebelum rapat kebijakan moneter bulanan berikutnya. Langkah ini mengikuti kenaikan tak terduga sebesar 50 basis poin pada bulan sebelumnya.
Dalam pernyataannya, Bank Indonesia menyebut kenaikan suku bunga sebagai "langkah preventif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak volatilitas global yang tinggi akibat perang di Timur Tengah." Bank sentral juga menargetkan inflasi 2026-2027 tetap dalam kisaran 2,5 ± 1,0 persen.
RUU Kontroversial dan Kekhawatiran Independensi
Sehari setelah rupiah menembus Rp18.000, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) mengesahkan RUU yang memperluas mandat Bank Indonesia untuk mencakup tanggung jawab atas pertumbuhan ekonomi. RUU ini juga memungkinkan anggota DPR mengevaluasi kinerja bank sentral.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa amendemen legislatif ini bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing global di tengah lonjakan harga minyak dunia. "Ini bukan hanya soal stabilitas nilai tukar atau inflasi, tapi juga soal pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja," ujarnya di hadapan parlemen.
Namun, ekonom Yose Rizal Damuri dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) memperingatkan bahwa langkah tersebut berpotensi menggerus independensi Bank Indonesia. Rupiah telah terdepresiasi lebih dari tujuh persen tahun ini dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia menurut Bloomberg.
Sumber: Malay Mail, Bloomberg, Reuters
0 Comments