Kapal Induk Liaoning China Selesaikan Misi 40 Hari di Laut China Selatan dan Laut Filipina

Kapal perang

Armada Liaoning Kembali ke Qingdao Setelah Deployments Panjang

QINGDAO — Grup Serang Kapal Induk Liaoning milik Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAN) telah kembali ke pangkalan utamanya di Qingdao pada Senin, 22 Juni 2026, setelah menyelesaikan deployments selama 40 hari di kawasan Laut China Selatan dan Laut Filipina. Pengumuman resmi disampaikan oleh Kementerian Pertahanan Nasional China.

Detail Operasi Liaoning

Menurut laporan USNI News, deployments kapal induk Liaoning (CV-16) ini melibatkan sejumlah kapal perang pendukung, termasuk kapal perusak Tipe 055 Nanchang dan Yan'an, serta kapal selam dan kapal logistik. Rute operasi mencakup perairan di sekitar Kepulauan Spratly, Kepulauan Paracel, dan melintasi Selat Luzon menuju Samudra Pasifik Barat.

Analis militer dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, Dr. Patrick Cronin, menilai bahwa operasi ini merupakan sinyal strategis China kepada negara-negara yang memiliki klaim tumpang tindih di Laut China Selatan, khususnya Filipina, Vietnam, dan Malaysia.

Reaksi Regional

Kementerian Pertahanan Filipina yang dipimpin oleh Menteri Gilbert Teodoro Jr. menyatakan keprihatinan atas kehadiran armada China di perairan yang disengketakan. "Kami terus memperkuat kemampuan pertahanan maritim kami dan bekerja sama dengan sekutu, termasuk Amerika Serikat di bawah Indo-Pacific Command (INDOPACOM)," ujar Teodoro dalam konferensi pers di Manila.

Sementara itu, Jepang melalui Kementerian Pertahanan Jepang juga memantau pergerakan armada China. Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) dilaporkan telah mengerahkan kapal perusak JS Maya dan pesawat pengintai P-1 untuk mengawasi aktivitas Liaoning di perairan dekat Okinawa.

Sumber: USNI News, CSIS, Kementerian Pertahanan Filipina, JMSDF

Post a Comment

0 Comments