FAO Bergerak Cegah Krisis Peternakan Asia: Varian Baru Penyakit Kaki dan Mulut Menyebar ke China dan Mongolia

Ancaman penyakit hewan di Asia

FAO Bergerak Cegah Krisis Peternakan Asia: Varian Baru Penyakit Kaki dan Mulut Menyebar ke China dan Mongolia

ROMA/BEIJINGOrganisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) meluncurkan langkah darurat untuk mencegah krisis peternakan yang lebih luas di Asia, setelah konfirmasi penyebaran varian baru virus Foot-and-Mouth Disease (FMD) di China dan Mongolia. Pemberitahuan resmi dari kedua negara pada April dan Mei 2026 mengonfirmasi kehadiran serotipe virus FMD yang sebelumnya belum terdeteksi di Asia Timur.

Dr. Qu Dongyu, Direktur Jenderal FAO, menyatakan bahwa varian baru ini memiliki potensi penyebaran yang lebih luas dan dapat mengancam industri peternakan di seluruh Asia Selatan dan Asia Tenggara. Serangan FMD sebelumnya telah menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar di berbagai negara Asia.

Ancaman terhadap Industri Peternakan Regional

Menurut data Kementerian Pertanian China, wabah ini pertama kali terdeteksi di Provinsi Inner Mongolia dan Heilongjiang, yang merupakan daerah peternakan sapi dan babi terbesar di China utara. Sementara itu, Kementerian Pangan dan Pertanian Mongolia mengonfirmasi kasus serupa di provinsi Arkhangai dan Bulgan, yang mengancam populasi ternak nomaden yang menjadi tulang punggung ekonomi pedesaan Mongolia.

Badan Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) yang berkantor pusat di Paris telah mengeluarkan rekomendasi karantina dan pengawasan ketat terhadap pergerakan ternak lintas batas. Kementerian Pertanian Vietnam, Departemen Pertanian Thailand, dan Kementerian Pertanian Indonesia telah meningkatkan kewaspadaan di pintu masuk perbatasan masing-masing.

Respons Internasional dan Pencegahan

FAO mengkoordinasikan respons melalui Komisi Asia Tenggara untuk Pengendalian FMD (SEAFMD), yang melibatkan Vietnam, Thailand, Filipina, Malaysia, dan Kamboja. Program vaksinasi massal dan surveilans genetik virus menjadi prioritas utama.

Dr. Keith Sumption, Kepala Unit FMD FAO, menekankan bahwa deteksi dini dan transparansi data dari negara-negara terdampak sangat krusial untuk mencegah eskalasi krisis. Sejarah menunjukkan bahwa wabah FMD di Asia dapat menyebar dengan cepat melalui perdagangan ternak ilegal dan migrasi hewan liar.

Pemerintah negara-negara Asia kini diminta untuk memperkuat sistem biosekuritas dan berbagi data secara real-time dengan FAO dan WOAH. Sumber: Scoop, Reuters, FAO.

Post a Comment

0 Comments