DBS Group Bidik Aset Wealth Management S$500 Miliar hingga 2026, Perkuat Posisi Singapura sebagai Hub Keuangan Asia
DBS Group Bidik Aset Wealth Management S$500 Miliar hingga 2026
SINGAPURA - DBS Group, bank terbesar di Singapura, menargetkan peningkatan aset kelolaan (assets under management/AUM) bisnis wealth management hingga S$500 miliar atau setara US$369,7 miliar pada akhir 2026. Target ambisius ini disampaikan langsung oleh petinggi unit wealth DBS Group kepada Reuters, mencerminkan kepercayaan perbankan Singapura terhadap derasnya aliran dana global ke negara kota tersebut.

Langkah DBS Group ini sejalan dengan posisi Singapura yang kini menempati peringkat ketiga dunia sebagai pusat perdagangan valuta asing setelah Amerika Serikat dan Inggris, serta kedua setelah Hong Kong dan Swiss sebagai tujuan aset lintas batas para miliarder global. Menurut laporan The Economist edisi 13 Agustus 2026, kekuatan finansial Singapura kian formidable meski pasar saham domestiknya dinilai masih perlu penguatan.
Aliran Dana Global dan Strategi DBS
DBS Group melalui unit DBS Private Bank dan DBS Treasures mencatat pertumbuhan dana masuk yang robust sepanjang 2024-2026. Head of Wealth Planning DBS menyebut Singapura diuntungkan oleh stabilitas regulasi Monetary Authority of Singapore (MAS), kerahasiaan yang terjaga, serta ekosistem family office yang melonjak. Saat ini lebih dari 1.500 single family office tercatat di MAS, naik dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir.
Selain DBS, pesaing seperti OCBC Bank melalui Bank of Singapore dan United Overseas Bank (UOB) melalui UOB Private Banking juga agresif menggarap segmen high net worth. Namun DBS unggul berkat integrasi digital lewat aplikasi DBS digibank dan DBS iWealth yang memungkinkan nasabah memantau portofolio saham Singapore Exchange (SGX), obligasi, hingga reksa dana secara real-time.
Summit AI dan Masa Depan Bursa SGX
Optimisme sektor keuangan juga tercermin dari gelaran Singapore Business Review Technology Enterprise Summit 2026 yang akan digelar 12 November di Marina Bay Sands Expo. Konferensi yang diorganisir Singapore Business Review ini mengangkat tema Turning AI Ambition into Enterprise Value, dengan studi kasus ROI kecerdasan buatan di perbankan seperti chatbots DBS Jarvis dan OCBC Wingman.
The Economist dalam analisisnya mempertanyakan Can Singapore ever build a proper stock market? Kapitalisasi SGX yang didominasi Real Estate Investment Trusts (REITs) seperti CapitaLand Integrated Commercial Trust dan Mapletree Industrial Trust dinilai kurang menarik bagi startup teknologi. Meski demikian, inisiatif SGX seperti SPAC framework dan kemitraan dengan Nasdaq disebut menjadi jalan keluar.
Dengan target S$500 miliar, DBS Group optimistis Singapura akan tetap menjadi bolthole utama plutokrat Asia. Dukungan MAS, Singapore FinTech Festival di Singapore Expo, serta persaingan sehat dengan Hong Kong sebagai hub finansial membuat masa depan wealth management Singapura kian cerah pada 2026.
Post a Comment for "DBS Group Bidik Aset Wealth Management S$500 Miliar hingga 2026, Perkuat Posisi Singapura sebagai Hub Keuangan Asia"