Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

DBS Group Targetkan Aset Manajemen Kekayaan Lebih dari S$1 Triliun pada 2030, Ekspansi Agresif di Asia Tenggara

DBS Bank Tower Singapore

DBS Group Targetkan Aset Manajemen Kekayaan Lebih dari S$1 Triliun pada 2030

SINGAPURA — DBS Group Holdings, bank terbesar di Asia Tenggara, menargetkan pertumbuhan aset di bawah pengelolaan (AUM) dalam bisnis kekayaan hingga lebih dari S$1 triliun (sekitar US$774 miliar) pada tahun 2030. Target ambisius ini diungkapkan oleh kepala unit bisnis kekayaan DBS dalam pernyataannya pada 15 Juli 2026, seperti dilaporkan Reuters.

Target ini mencerminkan komitmen kuat DBS dalam memperkuat posisinya sebagai pemain dominan di pasar manajemen kekayaan regional, khususnya di segmen nasabah ultra-mewah dan high-net-worth individuals (HNWI).

Strategi Ekspansi di Pasar Kekayaan Asia Tenggara

Dalam beberapa tahun terakhir, DBS telah secara agresif memperluas jaringan operasionalnya di seluruh Asia Tenggara, dengan fokus khusus di Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Bank ini telah meningkatkan investasi dalam teknologi digital untuk platform manajemen kekayaan, termasuk penggunaan kecerdasan buatan dalam portofolio recommendation system dan risk assessment.

Tan Swee Huak, Group Chief Executive Officer DBS Group Holdings, sebelumnya menyatakan bahwa pertumbuhan populasi orang kaya di Asia Tenggara menjadi katalis utama bagi ekspansi bisnis ini. Jumlah individu dengan aset investasi melebihi US$1 juta di kawasan Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh lebih dari 40 persen hingga 2030.

DBS juga memperkuat kemitraan strategis dengan berbagai family office dan perusahaan manajemen aset independen. Kolaborasi ini bertujuan untuk menyediakan layanan yang lebih terintegrasi, mulai dari perencanaan suksesesi kekayaan hingga pengelolaan aset lintas generasi.

Persaingan Ketat dengan Raksasa Global

Pasar manajemen kekayaan Asia Tenggara kini menjadi arena persaingan ketat antara bank lokal dan institusi global. HSBC, UBS, dan Citigroup turut memperkuat kehadiran mereka di kawasan ini. UBS bahkan baru saja mengumumkan pembukaan pusat operasional baru di Singapura untuk melayani klien se Asia-Pasifik.

DBS merespons dengan mempercepat transformasi digitalnya. Pada kuartal pertama 2026, DBS mencatat pertumbuhan AUM sebesar 12 persen year-on-year, didorong oleh meningkatnya minat investor terhadap produk kekayaan berbasis teknologi dan sustainable investing.

Para analis memproyeksikan bahwa target S$1 triliun ini realistis untuk dicapai, mengingat pertumbuhan konsisten yang ditampilkan DBS dalam beberapa tahun terakhir. Bloomberg Intelligence juga memproyeksikan bahwa Singapura akan mempertahankan pertumbuhan PDB sekitar 3 persen hingga 2030, yang didukung oleh sektor keuangan yang kuat.

Bagi ekosistem keuangan Asia Tenggara, ambisi DBS ini bukan hanya kabar baik bagi nasabah, tetapi juga mendorong kompetisi sehat yang pada akhirnya menguntungkan konsumen dan memperkuat posisinya sebagai hub keuangan regional.

Post a Comment for "DBS Group Targetkan Aset Manajemen Kekayaan Lebih dari S$1 Triliun pada 2030, Ekspansi Agresif di Asia Tenggara"