Rupiah Indonesia jatuh terhadap dolar AS

Rupiah Tembus Rekor Terburuk di Tengah Guncangan Energi Global

Jakarta, 4 Juni 2026 — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat jatuh ke level terendah yang pernah tercatat, seiring dengan dampak perang Iran yang memicu gelombang ketidakstabilan ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Kejatuhan mata uang ini menambah tekanan terhadap ekonomi Indonesia yang sudah menghadapi tantangan inflasi dan defisit perdagangan.

Faktor-Faktor Penyebab Kejatuhan Rupiah

Menurut laporan Al Jazeera, kejatuhan rupiah dipicu oleh guncangan energi dari konflik Iran yang berdampak langsung pada harga minyak dunia. Indonesia sebagai importir minyak netto semakin terbebani oleh lonjakan harga energi global yang mendorong tekanan pada neraca perdagangan.

Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen sebagai respons terhadap pelemahan rupiah. Langkah ini menandai pergeseran kebijakan dari dukungan pertumbuhan ekonomi menjadi pertahanan stabilitas makroekonomi.

Ekonom senior dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, menyatakan bahwa tekanan pada rupiah tidak semata-mata faktor eksternal. Defisit transaksi berjalan yang melebar dan ketidakpastian data PDB juga berkontribusi pada pelemahan kepercayaan investor.

Dampak Terhadap Ekonomi Rakyat

Pelemahan rupiah berdampak langsung pada harga barang impor, termasuk bahan pangan dan bahan bakar. Inflasi tahunan Indonesia diperkirakan mencapai 2,97 persen pada Mei 2026, mendekati batas atas target Bank Indonesia.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menyatakan akan menyerap guncangan harga minyak menggunakan anggaran negara dan meningkatkan alokasi subsidi BBM. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa stabilitas ekonomi tetap menjadi prioritas utama.

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia mencatat arus keluar dana asing yang signifikan dalam beberapa minggu terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam seiring dengan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah turbulensi geopolitik global.