
PM Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung Gelar KTT di Andong: Bahas Kerja Sama Indo-Pasifik di Tengah Ketegangan Global
ANDONG, DiaryAsia — Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menggelar pertemuan tingkat tinggi (KTT) pada 19 Mei 2026 di kota kelahiran Lee, Andong, Korea Selatan. Pertemuan ini berlangsung tak lama setelah Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026.
KTT ini merupakan pertemuan bilateral ketiga antara kedua pemimpin sejak Lee Jae Myung menjabat pada awal 2026, menggantikan Yoon Suk Yeol yang mengundurkan diri akhir 2025. Agenda utama mencakup kerja sama keamanan di kawasan Indo-Pasifik, penguatan rantai pasokan semikonduktor, dan koordinasi mengenai program nuklir Korea Utara.
Isu Keamanan dan Diplomasi
Dalam pernyataan bersama, Takaichi dan Lee menegaskan komitmen mereka terhadap Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. "Jepang dan Korea Selatan adalah mitra strategis yang tak tergantikan dalam menjaga stabilitas kawasan," ujar Takaichi dalam jumpa pers bersama.
Lee Jae Myung menambahkan bahwa kedua negara sepakat memperkuat kerja sama intelijen mengenai ancaman rudal Korea Utara. "Kami tidak bisa mengabaikan provokasi berulang dari Korea Utara di bawah pimpinan Kim Jong Un. Kerja sama trilateral dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Trump tetap menjadi pilar keamanan kita," tegas Lee.
Ekonomi dan Semikonduktor
Aspek ekonomi juga menjadi sorotan utama. Kedua pemimpin menandatangani kesepakatan kerja sama semikonduktor yang mencakup pembagian informasi tentang gangguan rantai pasokan dan investasi bersama dalam teknologi chip generasi berikutnya. Samsung Electronics dan Tokyo Electron disebut-sebut akan menjadi pemain utama dalam kerja sama ini.
Mantan PM Jepang Fumio Kishida, yang hadir dalam forum Nikkei pada 9 Juni 2026, menyatakan bahwa hubungan Korea Selatan-Jepang telah mencapai "tingkat kemitraan baru yang memungkinkan kedua negara tumbuh bersama." Kishida juga menekankan pentingnya perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
Namun, isu sensitif seperti klaim sejarah masa perang dan sengketa Dokdo/Takeshima masih membayangi hubungan kedua negara. Analis dari Institut Brookings mencatat bahwa meskipun terdapat kemajuan diplomatik, "luka sejarah masih memerlukan waktu dan itikad baik untuk sepenuhnya disembuhkan."
Sumber: The Diplomat, UPI, Nikkei, Yonhap
0 Comments