China Kecam Pembicaraan Nuklir AS dengan Jepang dan Korea Selatan: Risiko Proliferasi Meningkat

Ketegangan nuklir Asia Timur

China Kecam Pembicaraan Nuklir AS dengan Jepang dan Korea Selatan: Risiko Proliferasi Meningkat

BEIJING/WASHINGTONKementerian Luar Negeri China secara resmi menyampaikan kecaman keras terhadap pembicaraan penangkalan nuklir yang digelar Pemerintah Amerika Serikat bersama Jepang dan Korea Selatan pada 19 Juni 2026. Beijing menilai trilateral ini berpotensi meningkatkan risiko proliferasi nuklir dan eskalasi konflik di kawasan Asia Timur Laut.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers rutin di Beijing, menegaskan bahwa perluasan dialog penangkalan nuklir AS dengan kedua sekutunya di Asia dapat menciptakan dinamika keamanan yang tidak stabil dan memicu perlombaan senjata di kawasan.

Trilateral Washington-Tokyo-Seoul Diperkuat

Pembicaraan ini merupakan bagian dari upaya Pemerintahan Presiden Donald Trump untuk memperkuat aliansi keamanan trilateral di Asia Timur, mengikuti jejak kerangka kerja yang dibangun sejak era Pemerintahan Presiden Joe Biden. Menteri Luar Negeri Jepang Takeshi Iwaya dan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Tae-yul hadir dalam dialog yang membahas koordinasi respons terhadap ancaman nuklir Korea Utara di bawah pimpinan Kim Jong-un.

Departemen Pertahanan AS (Pentagon) menekankan bahwa dialog ini bersifat defensif dan bertujuan meningkatkan koordinasi operasional antara Angkatan Bersenjata AS di Pasifik, Pasukan Bela Diri Jepang (JSDF), dan Militer Korea Selatan.

Respons Tiongkok dan Implikasi Regional

China telah berulang kali menyatakan keberatan terhadap kehadiran militer AS yang semakin intensif di kawasan. Kementerian Pertahanan China mencatat peningkatan aktivitas militer trilateral di Laut China Selatan dan Laut Jepang sebagai ancaman terhadap kedaulatan regional.

Analis dari Stimson Center, Jenny Town, menilai bahwa kecaman China mencerminkan kekhawatiran Beijing terhadap semakin eratnya aliansi keamanan di Asia Timur yang dapat mengisolasi posisi strategis China di kawasan. Sementara itu, Korea Utara melalui Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) juga mengutuk dialog trilateral tersebut dan mengancam akan mengambil tindakan balasan.

Tegangan geopolitik di Asia Timur diperkirakan akan terus meningkat menjelang paruh kedua 2026. Sumber: UPI, Reuters.

Post a Comment

0 Comments