Banjir Bandang Sumatera Habiskan 7% Populasi Orangutan Tapanuli, Spesies Terlangka di Dunia Terancam Punah

Orangutan Tapanuli Sumatra

Badai Siklon Senyar Picu Longsor yang Membantai Populasi Primata Terlangka Dunia

JAKARTA — Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera akibat Badai Siklon Senyar pada 2025 telah memusnahkan setidaknya 7% dari total populasi Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), spesies kera besar terlangka di dunia. Laporan ini dirilis pada 10 Juni 2026.

Setidaknya 58 ekor Orangutan Tapanuli tewas dalam bencana tersebut, menurut survei di blok barat hutan Batang Toru yang merupakan habitat mayoritas dari total populasi 800 primata yang tersisa. Bencana ini juga menewaskan sedikitnya 1.200 orang dan merusak sekitar 300.000 rumah.

Penyebab: Deforestasi dan Perubahan Iklim

Laporan bersama oleh Borneo Futures (Brunei), World Weather Attribution, dan Liverpool John Moores University menyebutkan bahwa temuan diperoleh dari analisis citra satelit kerusakan di Blok Barat Batang Toru dan catatan historis populasi orangutan di sana.

Erik Meijaard dari Borneo Futures, penulis utama studi, menjelaskan bahwa hujan lebat meresapi tanah begitu banyak sehingga sebagian besar lereng bukit di hutan primer runtuh dalam longsoran bergerak cepat. "Jika Anda terjebak sebagai orangutan... jika ada yang datang dengan kecepatan tinggi, peluang bertahan hidup akan sangat minim," kata Meijaard.

Seruan Penyelamatan

Studi ini juga menemukan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia kemungkinan telah meningkatkan intensitas dan frekuensi curah hujan ekstrem di sekitar Selat Malaka, menempatkan habitat Orangutan Tapanuli pada risiko yang lebih besar.

Panut Hadisiswoyo, peneliti lain dalam tim, mendesak pemerintah Indonesia untuk bekerja sama dengan LSM dan peneliti guna mencegah penurunan populasi orangutan lebih lanjut. "Kita bisa meminimalkan perburuan dan populasinya bisa distabilkan," ujarnya.

Orangutan Tapanuli, yang secara resmi diidentifikasi sebagai spesies baru pada 2017, hanya ditemukan di kawasan Hutan Batang Toru, Sumatera Utara, menjadikannya salah satu kera besar paling terancam punah di planet ini.

Sumber: New York Times, The Star, Tempo, Borneo Futures — Juni 2026

Post a Comment

0 Comments