
Penipuan Penangkapan Digital: Skandal Besar yang Menyebar dari Kamboja ke India
New Delhi — WhatsApp, yang dimiliki oleh Meta, telah memblokir lebih dari 9.400 akun yang terhubung dengan penipuan "penangkapan digital" (digital arrest scam) di India selama periode 12 minggu dimulai Januari 2026. Pengungkapan ini disampaikan melalui pernyataan resmi yang diajukan di hadapan Mahkamah Agung India oleh Jaksa Agung R. Venkataramani.
Modus penipuan ini melibatkan pelaku yang mengaku sebagai petugas penegak hukum dari Central Bureau of Investigation (CBI), Enforcement Directorate (ED), atau Departemen Pendapatan India. Mereka menghubungi korban melalui video call dan menuduh mereka terlibat dalam pencucian uang atau kejahatan lainnya, lalu memaksa korban mentransfer uang ke rekening tertentu sebagai "jaminan" agar tidak "ditangkap".
Jaringan Penipuan Beroperasi dari Kamboja
Berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh Free Press Journal dan dikonfirmasi oleh Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi India, sebagian besar pelaku operasi penipuan ini berbasis di Kamboja. Sindiket ini mengoperasikan pusat-pusat penipuan (scam centers) di Phnom Penh dan Sihanoukville yang dipekerjakan oleh ribuan orang, sebagian besar merupakan korban perdagangan manusia dari Myanmar dan Vietnam.
Menurut laporan The Diplomat pada April 2026, Washington akhirnya mulai menyadari skala tantangan ini. Department of Justice Amerika Serikat pada 23 April 2026 mendakwa dua warga negara Tiongkok, Huang Xing Shan dan Jiang Wen Jie, atas tuduhan penipuan kabel yang terkait dengan operasi scam center di Asia Tenggara.
Dampak dan Respons Pemerintah India
Kejaksaan Agung India mencatat bahwa total kerugian akibat penipuan penangkapan digital mencapai lebih dari Rs. 2.100 crore (sekitar Rp3,8 triliun) dalam dua tahun terakhir. Korban berasal dari berbagai kalangan, termasuk pensiunan pegawai negeri, dokter, dan akademisi.
Menteri Negara untuk Urusan Elektronik dan Teknologi Informasi India, Rajeev Chandrasekhar, menyatakan bahwa pemerintah sedang membentuk task force khusus untuk memerangi penipuan digital lintas batas negara. "Kami akan bekerja sama dengan Interpol, ASEANAPOL, dan otoritas Kamboja untuk memberantas jaringan ini hingga ke akarnya," ujarnya.
WhatsApp juga telah meningkatkan sistem deteksi otomatis mereka untuk mengidentifikasi akun-akun yang mencurigakan dan melaporkan kepada otoritas terkait secara real-time.
0 Comments