Kerugian Bencana Asia-Pacific Tembus US$76 Miliar pada 2026, Laporan Aon Ungkap Kesenjangan Perlindungan

Kerugian bencana Asia-Pacific 2026

Kerugian Bencana Asia-Pacific Tembus US$76 Miliar pada 2026

SINGAPURA — Laporan Aon 2026 Climate and Catastrophe Insight yang dirilis pada 23 April 2026 mengungkap bahwa kerugian ekonomi dan manusia akibat bencana di kawasan Asia-Pacific telah mencapai US$76 miliar (sekitar Rp1.216 triliun). Laporan ini menyoroti kesenjangan perlindungan (protection gap) yang semakin lebar di seluruh kawasan.

Rincian Kerugian dan Jenis Bencana

Menurut laporan Aon — perusahaan konsultan risiko dan reasuransi global berkantor pusat di London — kerugian US$76 miliar tersebut berasal dari tiga kategori utama: gempa bumi, tekanan panas (heat stress), dan peristiwa hidrometeorologi seperti banjir, badai, dan topan. Jepang mencatat kerugian terbesar akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang pesisir timur laut pada 20 April 2026, memicu peringatan tsunami setinggi 3 meter di prefektur Iwate, Aomori, dan Hokkaido.

Indonesia juga mencatat kerugian signifikan akibat serangkaian banjir dan tanah longsor di Jawa Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa musim hujan 2026 di Indonesia berlangsung lebih lama dari biasanya, meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi.

Kesenjangan Perlindungan dan Rekomendasi

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan dari laporan Aon adalah fakta bahwa kurang dari 30 persen kerugian bencana di Asia-Pacific ditanggung oleh asuransi. Angka ini jauh di bawah rata-rata global yang mencapai 40 persen. Negara-negara seperti Filipina, Vietnam, dan Bangladesh memiliki tingkat perlindungan asuransi bencana di bawah 15 persen.

Dr. Mark Camillo, Kepala Global Analytics Aon, menekankan bahwa kesenjangan ini menempatkan jutaan masyarakat di Asia-Pacific dalam kerentanan finansial yang ekstrem. "Ketika bencana terjadi, masyarakat yang tidak memiliki perlindungan asuransi harus menanggung seluruh beban ekonomi sendiri, yang seringkali mendorong mereka ke dalam kemiskinan," ujarnya.

Laporan ini juga merekomendasikan beberapa langkah mendesak: peningkatan investasi dalam infrastruktur tahan bencana, pengembangan sistem peringatan dini yang lebih akurat, dan perluasan program asuransi bencana berbasis masyarakat. Bank Pembangunan Asia (ADB) di Manila dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDRR) di Jenewa telah merespons rekomendasi ini dengan rencana kolaborasi regional.

Sumber: Insurance Business Mag, Aon, CNBC, BBC, Mongabay

Post a Comment

0 Comments