
Remaja Prancis Didakwa di Singapura Atas Video Viral Jilat Sedotan Mesin Penjual Otomatis
SINGAPURA — Seorang remaja berkewarganegaraan Prancis resmi didakwa di Pengadilan Negeri Singapura pada akhir April 2026 atas tindakannya yang viral di media sosial, yaitu menjilat sedotan pada mesin penjual otomatis minuman di kawasan publik Singapura. Kasus ini langsung menarik perhatian internasional karena Singapura dikenal dengan peraturan ketat terhadap ketertiban dan kebersihan publik.
Insiden yang Viral di Media Sosial
Video berdurasi singkat yang diunggah oleh saksi mata menunjukkan remaja tersebut mendekati mesin penjual otomatis di area publik Singapura, kemudian dengan sengaja menjilat beberapa sedotan yang tersedia. Video tersebut menyebar luas di platform TikTok, X (Twitter), dan Instagram dalam hitungan jam, memicu gelombang kemarahan dari warganet Singapura dan internasional.
Otoritas Polisi Singapura (Singapore Police Force) dengan cepat mengidentifikasi dan menangkap tersangka berkat bantuan publik yang mengenali wajah remaja tersebut dari video yang viral. Remaja Prancis ini kemudian dibawa ke Pengadilan Negara Singapura untuk menghadapi dakwaan resmi.
Regulasi Ketat Singapura Soal Kebersihan Publik
Singapura telah lama dikenal sebagai salah satu negara dengan regulasi kebersihan dan ketertiban publik paling ketat di dunia. Di bawah Environmental Public Health Act, tindakan yang mengotori fasilitas publik dapat dikenai denda hingga SGD 1.000 (sekitar Rp11 juta) untuk pelanggaran pertama, dan hingga SGD 2.000 untuk pelanggaran berulang.
Kasus ini mengingatkan publik pada peraturan ketat Singapura yang meliputi larangan meludah di tempat umum, buang sampah sembarangan, hingga larangan mengunyah permen karet yang telah berlaku sejak tahun 1992. Kementerian Dalam Negeri Singapura (Ministry of Home Affairs) menegaskan bahwa semua pelanggar, termasuk wisatawan asing, akan diproses sesuai hukum yang berlaku.
Menurut juru bicara pengadilan, kasus remaja Prancis ini masih dalam tahap sidang awal. Jika terbukti bersalah, terdakwa dapat menghadapi denda substantial dan potensi larangan memasuki Singapura di masa depan. Kasus ini juga menjadi peringatan bagi wisatawan internasional untuk mematuhi hukum lokal saat berkunjung ke Singapura.
0 Comments