
Jepang Setujui Anggaran Pertahanan Rekor 9 Triliun Yen
TOKYO — Kabinet Jepang menyetujui rencana anggaran pertahanan yang melampaui 9 triliun yen (sekitar $58 miliar) untuk tahun mendatang, menandai pengeluaran militer terbesar dalam sejarah negara tersebut. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan dengan China, Korea Utara, dan Rusia di kawasan Indo-Pasifik.
Panel Keamanan Baru di Era PM Takaichi
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, meluncurkan panel baru pada 27 April 2026 yang bertugas meninjau kebijakan keamanan dan pertahanan negara. Menurut laporan Associated Press, panel ini akan mengevaluasi strategi pertahanan Jepang di tengah eskalasi ancaman regional, termasuk program rudal Korea Utara dan perluasan militer China di Laut China Selatan.
The Diplomat melaporkan pada 13 Mei 2026 bahwa ekspor pertahanan Jepang kini menjadi alat untuk membangun jaringan keamanan kekuatan menengah baru di seluruh kawasan Indo-Pasifik. Jepang secara aktif mengeksplorasi kerja sama pertahanan dengan Australia, India, dan Filipina.
Pergeseran Doktrin Pasca-Perang
Langkah Jepang juga mencakup pencabutan larangan ekspor senjata mematikan yang telah berlaku sejak era pasca-Perang Dunia II. Menurut NPR, persetujuan ini membuka jalan bagi Jepang untuk menjual sistem tempur generasi berikutnya, termasuk pesawat tempur dan drone tempur, ke negara-negara mitra.
The Asahi Shimbun mencatat bahwa anggaran pertahanan rekor ini merupakan bagian dari strategi deterensi jangka panjang Jepang. Dengan China yang terus memperkuat kehadiran militernya dan Korea Utara yang rutin melakukan uji rudal balistik, Tokyo merasa perlu meningkatkan kemampuan pertahanan secara signifikan.
Sumber: Associated Press, The Diplomat, NPR, The Asahi Shimbun, CNBC
0 Comments