
Diplomasi Drum: Bagaimana PM Takaichi dan Presiden Lee Perbaiki Hubungan Jepang-Korea Selatan
SEOUL — Hubungan Jepang dan Korea Selatan, yang selama puluhan tahun dibebani oleh isu sejarah dan sengketa diplomatik, mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi dan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. The Diplomat menyebut pasangan ini sebagai "odd couple" politik yang akhirnya berhasil membawa kedua negara sekutu AS ini ke jalur rekonsiliasi.
KTT Bersejarah dan Diplomasi Budaya
Pada KTT pertama mereka di Seoul, Takaichi dan Lee mengakhiri hari pertama pertemuan dengan penampilan drum bersama yang viral di media sosial. Malay Mail melaporkan pada 14 Januari 2026 bahwa momen "drum diplomacy" ini menjadi simbol pendekatan baru dalam hubungan bilateral kedua negara. Kedua pemimpin menunjukkan chemistry yang tak terduga, menandakan pergeseran dari ketegangan diplomatik masa lalu.
JoongAng Daily menyebut pertemuan ini sebagai tonggak penting dalam hubungan Jepang-Korsel yang telah tertahan selama lebih dari 70 tahun. Isu-isu sensitif seperti masalah perempuan penghibur masa perang dan sengketa territoriale Takeshima/Dokdo tetap ada, namun kedua pemimpin memilih untuk memprioritaskan kerja sama keamanan dan ekonomi.
Kerja Sama Strategis di Tengah Ancaman Regional
The Diplomat mencatat pada 4 Mei 2026 bahwa pendekatan Takaichi dan Lee didorong oleh kebutuhan strategis yang sama: menghadapi ancaman dari Korea Utara, mengimbangi pengaruh China, dan memperkuat aliansi dengan Amerika Serikat. Keduanya menyadari bahwa perpecahan antara Jepang dan Korea Selatan hanya menguntungkan pesaing regional.
Malay Mail juga melaporkan bahwa kedua negara sedang menjajaki kerja sama di bidang teknologi, pertahanan, dan pertukaran budaya. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk membangun fondasi hubungan yang lebih stabil dan saling menguntungkan di kawasan Asia Timur.
Sumber: The Diplomat, Malay Mail, JoongAng Daily, Associated Press
0 Comments