
Washington Menargetkan Sindikat Kejahatan Terorganisir Tiongkok di Kamboja dan Myanmar
BANGKOK — Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan operasi penindakan besar-besaran terhadap jaringan cyber scam di Asia Tenggara pada Jumat, 24 April 2026. Jaksa Agung AS Jeanine Pirro menyebut kampanye ini sebagai "teater perang baru" yang diluncurkan pemerintahan Trump terhadap kejahatan terorganisir transnasional asal Tiongkok.
Operasi yang dipimpin oleh Scam Center Strike Force ini mencakup sanksi Kementerian Keuangan terhadap seorang senator Kamboja, Kok An, serta 28 orang dan perusahaan lain yang dituduh mengoperasikan pusat penipuan dari Kamboja. Tuduhan pidana juga dijatuhkan terhadap dua warga negara Tiongkok yang terlibat operasi serupa di Myanmar.
Skala Kerugian yang Masif
Menurut data Federal Bureau of Investigation (FBI), warga Amerika Serikat kehilangan hampir $21 miliar akibat kejahatan siber dan penipuan daring sepanjang tahun 2025 saja. Industri gelap ini erat kaitannya dengan perdagangan manusia, di mana warga asing direkrut dengan janji pekerjaan palsu lalu dipaksa menjalankan skema romansa dan penipuan kripto dalam kondisi mirip perbudakan.
Inisiatif ini mencakup surat perintah untuk menyita dan menutup saluran rekrutmen daring besar di aplikasi Telegram, serta pembekuan ratusan juta dolar aset haram, ujar Pirro dalam konferensi pers virtual yang menghubungkan Washington dengan wartawan di Asia.
Keterlibatan Lintas Lembaga
Scam Center Strike Force terdiri dari Kantor Kejaksaan AS untuk Distrik Selatan New York, Departemen Keuangan, Departemen Kehakiman, dan badan penegak hukum lainnya. Operasi ini juga melibatkan kerja sama dengan otoritas di Thailand dan Filipina yang sebelumnya telah menutup beberapa pusat scam besar di wilayah mereka.
Sumber: Associated Press, 24 April 2026
0 Comments