Investigasi Mengungkap Jasa "Crime-for-Hire" Merajalela di Telegram Asia, Dari Peretasan Hingga Pembunuhan Berbayar

Telegram dan kejahatan siber di Asia

Jasa "Crime-for-Hire" Merajalela di Telegram Asia

Seoul — Sebuah investigasi mendalam mengungkap bahwa pasar gelap yang menawarkan jasa "crime-for-hire" atau kejahatan berbayar sedang berkembang pesat di platform Telegram, khususnya di kawasan Asia. Layanan ilegal ini menawarkan berbagai tindakan kriminal — mulai dari penyerangan, peretasan, hingga pembunuhan — yang diiklankan dan dihargai layaknya layanan komersial biasa.

Laporan yang dirilis pada 7 April 2026 oleh UPI dan Asia Today menunjukkan bahwa kelompok-kelompok kriminal terorganisir di Asia Tenggara dan Asia Timur menggunakan channel dan grup Telegram yang tersembunyi untuk menawarkan jasa mereka kepada calon klien.

Harga yang Terstruktur Seperti Menu Restoran

Yang mengejutkan, para pelaku menampilkan daftar layanan dengan harga yang terstruktur. Jasa peretasan akun media sosial ditawarkan mulai dari US$500, sementara jasa penyerangan fisik dihargai mulai dari US$2.000 hingga US$10.000 tergantung tingkat kekerasan yang diminta. Bahkan, layanan yang lebih ekstrem juga tersedia dengan harga yang jauh lebih tinggi.

Pembayaran dilakukan menggunakan mata uang kripto seperti Bitcoin dan USDT (Tether) melalui wallet anonim, membuat pelacakan oleh aparat penegak hukum menjadi sangat sulit. Financial Action Task Force (FATF) telah memperingatkan tren ini sebagai ancaman serius terhadap keamanan siber global.

Respons Pemerintah dan Platform

Pemerintah Korea Selatan, Jepang, dan Singapura telah memulai koordinasi untuk menangani fenomena ini. Korean National Police Agency (KNPA) dan Cyber Security Agency (CSA) Singapura telah membentuk unit khusus untuk memantau dan menindak channel-channel Telegram yang menawarkan jasa kriminal.

Sementara itu, Telegram sendiri menghadapi tekanan internasional karena dianggap lamban dalam menanggapi laporan konten ilegal. Wired melaporkan bahwa Telegram masih menjadi tempat beroperasi berbagai jaringan kriminal, termasuk pasar gelap senilai US$21 miliar yang terkait dengan penipuan kripto dan perdagangan manusia.

Sumber: UPI, Asia Today, Wired

Post a Comment

0 Comments