Wilayah Hindu Kush Himalaya Hadapi Lebih dari 10 Bencana di 2025: India Catat 16 Peristiwa, Ancaman Banjir dan Longsor Meningkat

Banjir bandang di wilayah Himalaya

Escalasi Risiko Bencana di Kawasan HKH: Banjir, Longsor, dan Cuaca Ekstrem Melanda Jutaan Jiwa

New Delhi — Kawasan Hindu Kush Himalaya (HKH) mencatat lonjakan tajam risiko bencana pada 2025, dengan banjir berulang, tanah longsor, dan peristiwa cuaca ekstrem yang memengaruhi jutaan orang di seluruh Asia Selatan dan Tenggara. Data EM-DAT menempatkan India di antara negara dengan jumlah bencana tertinggi secara global, mencatatkan 16 peristiwa bencana besar sepanjang tahun 2025.

Empat negara di kawasan HKH — India, Nepal, Pakistan, dan Bangladesh — menjadi yang paling terdampak, masing-masing menghadapi lebih dari 10 bencana signifikan dalam satu tahun. Tragedi Kedarnath 2013 yang dipicu oleh jebolnya danau glasial Chorabari menjadi preseden mengerikan dari potensi bencana serupa yang kini semakin meningkat frekuensinya.

Faktor Perubahan Iklim dan Kerentanan Infrastruktur

Para peneliti dari International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) mengidentifikasi beberapa faktor yang memperparah risiko bencana di kawasan ini. Pencairan gletser yang dipercepat, deforestasi, pembangunan infrastruktur yang tidak memadai di lereng curam, serta kepadatan populasi di daerah rawan bencana menjadi kombinasi berbahaya.

Banjir bandang di daerah Ramban, India, pada April 2025 menjadi salah satu peristiwa paling mematikan, menewaskan puluhan orang dan memutus akses jalan nasional selama berminggu-minggu. Di Nepal, musim hujan 2025 memicu lebih dari 400 insiden tanah longsor yang merusak permukiman dan lahan pertanian di distrik-distrik seperti Sindhupalchok, Dhading, dan Gorkha.

Kebutuhan Mendesak Sistem Peringatan Dini Regional

ICIMOD dan badan-badan terkait menekankan perlunya sistem peringatan dini terpadu yang mencakup seluruh kawasan HKH. Saat ini, koordinasi lintas negara masih terbatas, dan banyak komunitas di daerah terpencil tidak memiliki akses ke informasi peringatan bencana tepat waktu.

Laporan tersebut juga menyoroti bahwa 92% kerugian bencana di Asia tidak diasuransikan, menjadikan negara-negara berkembang di kawasan HKH sangat rentan secara finansial terhadap dampak bencana berulang. ADB dan Bank Dunia telah mengusulkan peningkatan investasi dalam infrastruktur tahan bencana dan mekanisme pembiayaan risiko bencana.

Sumber: The New Indian Express, ICIMOD, EM-DAT

Post a Comment

0 Comments