
Bank Sentral Thailand Turunkan Proyeksi Pertumbuhan 2026, Peringatkan Risiko Terburuk Jika Perang Berlanjut
BANGKOK — Bank of Thailand (BOT) resmi menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi negara itu untuk tahun 2026, sekaligus memberikan peringatan keras bahwa skenario terburuk bisa terjadi jika perang di Timur Tengah tidak segera berakhir. Keputusan ini disampaikan dalam rapat Dewan Kebijakan Moneter yang berlangsung pada pertengahan April 2026.
Proyeksi Baru dan Faktor Pemicu
Gubernur Bank of Thailand, Sethaput Suthiwartnarueput, menjelaskan bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi Thailand untuk 2026 diturunkan dari 3,2% menjadi 2,6%. Penurunan ini terutama dipicu oleh tiga faktor utama: melonjaknya harga energi akibat perang Iran, dampak berantai dari tarif perdagangan Donald Trump terhadap ekspor Thailand, dan lambatnya pemulihan sektor pariwisata.
"Kami tidak memiliki batas untuk skenario terburuk. Jika konflik di Timur Tengah berlanjut hingga akhir tahun, pertumbuhan kami bisa turun ke kisaran 1,5% atau bahkan lebih rendah," tegas Sethaput dalam konferensi pers.
Dampak Terhadap Ekonomi Thailand
Thailand merupakan salah satu ekonomi Asia Tenggara yang paling rentan terhadap guncangan energi karena ketergantungan tinggi pada impor minyak dan gas. Kementerian Energi Thailand melaporkan bahwa tagihan impor energi negara itu melonjak 23% pada kuartal pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sektor pariwisata yang merupakan tulang punggung ekonomi Thailand juga masih berjuang untuk pulih penuh. Kementerian Pariwisata dan Olahraga Thailand mencatat bahwa kedatangan wisatawan internasional pada Q1 2026 masih 15% di bawah level pra-pandemi. Asosiasi Hotel Thailand memperkirakan okupansi hotel di Bangkok, Phuket, dan Chiang Mai baru akan pulih sepenuhnya pada akhir 2026.
Sumber: Bangkok Post, Bank of Thailand, Reuters
0 Comments