Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga 4,75% Sepanjang 2026, Perang Iran Tekan Rupiah

Bank Indonesia

Kebijakan Moneter BI Tetap Hati-hati di Tengah Ketegangan Global

JAKARTABank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% sepanjang tahun 2026. Keputusan ini sejalan dengan survei Reuters terhadap seluruh 31 ekonom yang polled, di mana banyak dari mereka memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini.

Keputusan ini diambil setelah perang Iran memicu guncangan energi yang mendorong inflasi dan menekan nilai rupiah terhadap dolar AS. Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan pentingnya stabilitas kebijakan moneter di tengah ketidakpastian global.

Dampak Perang Iran Terhadap Ekonomi Indonesia

Konflik di Timur Tengah telah mengganggu pasokan minyak dan gas, menyebabkan lonjakan harga energi global. Dampaknya langsung terasa di Indonesia, di mana inflasi meningkat dan nilai tukar rupiah berada di bawah tekanan. Reuters melaporkan bahwa guncangan energi ini menjadi faktor utama yang membuat BI enggan menurunkan suku bunga.

Meski demikian, International Monetary Fund (IMF) dan investor asing masih melihat Indonesia sebagai salah satu "bright spot" ekonomi dunia dengan pertumbuhan yang kuat. Hal ini disampaikan BI dalam pernyataannya pada 16 April 2026, mengutip optimisme dari forum IMF Spring Meetings di Washington.

Outlook dan Proyeksi

Menurut Channel NewsAsia (CNA), Bank Indonesia akan terus memantau perkembangan inflasi dan nilai tukar rupiah secara ketat. Jika perang Iran mereda dan harga energi stabil, kemungkinan pemangkasan suku bunga masih terbuka di paruh kedua 2026.

Para analis dari Tempo English mencatat bahwa BI juga telah melakukan survei yang menunjukkan penurunan optimisme terkait ketersediaan lapangan kerja, menambah pertimbangan dalam keputusan moneter.

Sumber: Channel NewsAsia, Reuters, Tempo.co, The Jakarta Post

Post a Comment

0 Comments