
Bank Dunia Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Asia Tenggara Melambat di 2026 Akibat Tarif dan Perang Iran
WASHINGTON — Bank Dunia merilis proyeksi terbaru yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia Tenggara akan melambat secara signifikan pada tahun 2026. Keputusan ini diambil di tengah dampak kombinasi dari tarif perdagangan yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump dan gangguan pasokan minyak serta gas akibat perang di Timur Tengah.
Proyeksi Pertumbuhan Diturunkan
Dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik menjadi 4,2%, turun dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,8%. Untuk ASEAN-5 (Indonesia, Thailand, Malaysia, Filipina, dan Vietnam), pertumbuhan diproyeksikan melambat menjadi 4,5% dari estimasi sebelumnya 5,1%.
Manuela Ferro, Direktur Regional Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, menyatakan bahwa tekanan ganda dari kebijakan tarif AS dan krisis energi global menciptakan lingkungan ekonomi yang "sangat menantang" bagi negara-negara berkembang di kawasan ini. "Negara-negara Asia Tenggara memiliki fundamental ekonomi yang kuat, namun guncangan eksternal kali ini jauh lebih besar," kata Ferro.
Dampak Terhadap Negara-Negara ASEAN
Indonesia diproyeksikan tumbuh 4,8% pada 2026, melambat dari 5,0% di tahun sebelumnya. Vietnam yang sebelumnya diunggulkan dengan pertumbuhan 6,5%, kini diprediksi hanya mencapai 5,8%. Thailand bahkan lebih terdampak, dengan proyeksi pertumbuhan turun menjadi 2,4% akibat ketergantungan tinggi pada ekspor dan pariwisata.
Kementerian Keuangan Indonesia melalui Menteri Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa pemerintah tetap optimistis dapat mempertahankan target pertumbuhan 5,0%. Berbagai stimulus fiskal dan reformasi struktural terus digulirkan untuk menopang permintaan domestik.
Sumber: The Diplomat, World Bank, The Jakarta Post
0 Comments