Indonesia Resmi Hentikan Proyek Co-Production Jet Tempur KF-21 dengan Korea Selatan

Ilustrasi jet tempur

Indonesia Resmi Hentikan Proyek Co-Production Jet Tempur KF-21 dengan Korea Selatan

Pemerintah Indonesia secara resmi menghentikan rencana co-production jet tempur KF-21 Boramae dengan Korea Selatan. Keputusan ini mengejutkan mengingat proyek ambisius tersebut telah berjalan lebih dari satu dekade dengan investasi miliaran dolar.

Menurut laporan Defense News (6 Juli 2026), Kementerian Pertahanan Indonesia dan Defense Acquisition Program Administration (DAPA) Korea Selatan sedang merundingkan transfer satu prototipe KF-21 sebagai bentuk penyelesaian akhir dari kemitraan yang telah berlangsung sejak 2010.

Sejarah Proyek KF-21

Proyek KF-21 Boramae diluncurkan oleh Korea Aerospace Industries (KAI) dengan Indonesia sebagai mitra utama. Berdasarkan kesepakatan awal, Indonesia diwajibkan menanggung 20% biaya pengembangan — sekitar USD 1,6 miliar — dengan imbalan transfer teknologi dan hak produksi. Namun, pembayaran Indonesia tersendat sejak 2019, memicu ketegangan diplomatik antara Jakarta dan Seoul.

Prabowo Subianto, yang saat ini menjabat sebagai Presiden RI, telah menyatakan preferensi untuk mengalihkan anggaran pertahanan ke pembelian pesawat jadi (off-the-shelf) dan pengembangan industri pertahanan dalam negeri melalui PT Dirgantara Indonesia dan PT Pindad.

Implikasi Strategis

Keputusan ini menuai reaksi beragam dari pengamat militer. Connie Rahakundini Bakrie, analis pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies (ISSS), menilai penghentian KF-21 sebagai "pukulan bagi ambisi Indonesia membangun kemandirian industri pertahanan."

Di sisi lain, Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen pada modernisasi alutsista melalui berbagai jalur, termasuk akuisisi Dassault Rafale dari Prancis dan potensi pembelian F-15EX dari Amerika Serikat.

Sementara itu, KAI dan DAPA menyatakan akan melanjutkan produksi KF-21 tanpa Indonesia, dengan target pengiriman pertama ke Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) pada 2026.

Post a Comment

0 Comments