Tembakan di Senat Filipina: Senator Ronald "Bato" dela Rosa Buruan ICC, Gedung Senat Ditembak

Gedung Senat Filipina setelah insiden penembakan

Gedung Senat Filipina Ditembak: Senator "Bato" dela Rosa Jadi Pusat Krisis

MANILA — Lebih dari selusin tembakan terdengar di gedung Senat Filipina pada Rabu sore, 13 Mei 2026, memicu kekacauan besar. Para senator, staf, dan wartawan terperangkap di dalam gedung saat otoritas memerintahkan semua orang untuk berlindung dan berlari mencari tempat aman.

Identifikasi Tersangka dan Peran NBI

Kepolisian Filipina mengidentifikasi tersangka penembakan sebagai seorang supir yang bekerja untuk National Bureau of Investigation (NBI) — badan intelijen yang sejak Senin telah berusaha melaksanakan surat perintah penangkapan dari International Criminal Court (ICC) terhadap Senator Ronald "Bato" dela Rosa.

Delapan orang dilaporkan terluka ringan dalam insiden tersebut, termasuk dua petugas keamanan Senat. Gedung Senat langsung ditempatkan dalam lockdown penuh selama beberapa jam.

Siapa Ronald "Bato" dela Rosa?

Senator dela Rosa, yang dijuluki "Bato" (batu dalam bahasa Tagalog), menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional Filipina dari Juli 2016 hingga April 2018. Ia ditunjuk oleh mantan Presiden Rodrigo Duterte dan menjadi arsitek utama kampanye perang obat-obatan "Project Double Barrel" yang menewaskan ribuan warga.

Duterte sendiri telah ditangkap pada Maret 2025 dan saat ini ditahan di Den Haag, Belanda, untuk menghadapi persidangan ICC atas tuduhan kejahatan terhadap manusia. Dela Rosa, yang tidak terlihat di publik selama berbulan-bulan, melakukan siaran langsung di Facebook pada hari insiden dan mengklaim penangkapannya sudah dekat.

"Saya menyerukan kepada kalian semua. Semoga kalian bisa membantu saya. Jangan biarkan orang Filipina lain dibawa ke Den Haag, kedua setelah Presiden Duterte," ujar dela Rosa dalam siaran langsungnya, dikutip dari TIME dan Rappler.

Ombudsman Jesus Crispin Remulla pada Sabtu, 16 Mei, mengungkapkan bahwa Senat menolak menerima subpoena untuk menyerahkan rekaman CCTV insiden penembakan. Pengadilan Tinggi Filipina masih mempertimbangkan permohonan dela Rosa untuk memblokir eksekusi surat perintah ICC.

Implikasi Hukum dan Politik

Insiden ini menambah ketegangan politik di Filipina yang sudah memanas sejak penangkapan Duterte. Kasus dela Rosa di ICC berkaitan erat dengan perang obat-obatan yang menewaskan antara 12.000 hingga 30.000 orang selama periode 2016-2018.

Sumber: TIME, Rappler, The Star Malaysia, U.S. News & World Report

Post a Comment

0 Comments