
Ledakan AI di Asia Tenggara: 40 Juta Pekerja Gig Terancam Kehilangan Mata Pencaharian
SINGAPURA — Asia Tenggara sedang mengalami gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) yang luar biasa, dipimpin oleh raksasa teknologi dari Amerika Serikat dan Tiongkok. Namun di balik narasi kemakmuran digital, jutaan pekerja gig — mulai dari pengemudi ojek online, kurir pengiriman makanan, hingga pekerja lepas di platform digital — menghadapi ancaman eksistensial terhadap mata pencaharian mereka.
Skala Ancaman terhadap Pekerja Gig
Menurut analisis yang dilaporkan oleh United Press International (UPI) pada 26 Mei 2026, diperkirakan sekitar 40 juta pekerja gig di kawasan Asia Tenggara berisiko mengalami guncangan ekonomi akibat otomatisasi berbasis AI. Negara-negara yang paling terdampak meliputi Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand, dan Malaysia — lima pasar dengan pertumbuhan ekonomi digital terbesar di kawasan.
Platform seperti Grab, GoTo, ShopeeFood, dan Lalamove mempekerjakan jutaan pengemudi dan kurir di seluruh kawasan. Namun, dengan berkembangnya kendaraan otonom, drone pengiriman, dan sistem AI yang dapat menggantikan tugas-tugas administratif, posisi-posisi ini mulai terancam secara langsung.
Respons Pemerintah dan Platform
Pemerintah Singapura melalui Ministry of Manpower (MOM) dan Infocomm Media Development Authority (IMDA) telah meluncurkan program reskilling nasional untuk membantu pekerja gig beralih ke peran yang tidak dapat digantikan oleh AI. Program ini mencakup pelatihan di bidang perawatan kesehatan, energi terbarukan, dan teknologi hijau.
Sementara itu, Grab Holdings telah mengumumkan inisiatif Grab Academy yang bertujuan melatih 500.000 pengemudi dan mitra mereka dalam keterampilan digital baru selama tiga tahun ke depan. CEO Grab, Anthony Tan, menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen untuk tidak meninggalkan siapa pun dalam transisi digital.
Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan sedang menyusun regulasi baru yang mewajibkan platform digital menyediakan jaminan sosial dan akses pelatihan bagi pekerja gig. Menteri Ketenagakerjaan menegaskan bahwa perlindungan pekerja gig menjadi prioritas dalam agenda reformasi ketenagakerjaan nasional.
Para analis memperingatkan bahwa tanpa intervensi kebijakan yang tepat, Asia Tenggara berisiko mengalami peningkatan pengangguran struktural yang signifikan dalam dekade mendatang. Ledakan AI bisa menjadi berkah atau kutukan — semuanya tergantung bagaimana kita mengelolanya, tegas seorang analis ekonomi dari Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS), Singapura.
Sumber: UPI, The Diplomat, Jakarta Post
0 Comments