
Polisi Indonesia Deteksi Pergeseran Sindikat Scam dari Kamboja ke Nusantara
Jakarta — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) memperingatkan bahwa Indonesia berpotensi menjadi pusat baru jaringan perjudian daring dan penipuan siber transnasional, setelah serangkaian razia besar mengungkap operasi kriminal yang melibatkan ratusan warga negara asing di seluruh negeri.
Untung Widyatmoko, Sekretaris Interpol Indonesia, dalam pernyataannya pada Sabtu 9 Mei 2026 menyebutkan bahwa operasi yang sebelumnya terpusat di Kamboja, Myanmar, Laos, dan Vietnam kini semakin banyak ditemukan di Indonesia. "Setelah penindakan sukses di negara-negara Indochina, operasi tersebut tampaknya berpindah ke Indonesia," ujarnya seperti dikutip dari The Jakarta Post.
Razia Hayam Wuruk: 321 Tersangka Ditangkap dalam Dua Bulan
Operasi terbesar terjadi di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, pada 7 Mei 2026. Polisi menangkap 321 orang, terdiri dari 228 warganegara Vietnam, 57 warganegara Tiongkok, 13 warga Myanmar, 11 warga Laos, 5 warga Thailand, serta masing-masing 3 warga Malaysia dan Kamboja. Satu warga Indonesia yang sebelumnya bekerja di Kamboja juga turut ditangkap.
Operasi perjudian daring tersebut telah aktif selama dua bulan di sebuah gedung perkantoran. Polisi menyita 75 domain dan situs web judi online, serta uang tunai senilai 1,9 miliar rupiah (US$109.165), 53,82 juta dong Vietnam (US$2.045), dan US$10.210 dalam berbagai mata uang. Sebanyak 275 tersangka telah diidentifikasi dan berpotensi menghadapi tuduhan perjudian ilegal dan pencucian uang.
Razia Batam dan Pola Pergeseran Global
Sehari sebelumnya, pada 6 Mei, imigrasi dan polisi melakukan penggeledahan di Apartment Baloi View, Lubuk Baja, Batam, dan menahan 210 warganegara asing. Selain Jakarta dan Batam, kasus serupa juga terungkap di Denpasar, Surabaya, Yogyakarta, Surakarta, Bogor, dan Sukabumi.
Untung menjelaskan bahwa server yang sebelumnya berlokasi di pusat scam seperti Sihanoukville dan Poipet di Kamboja, serta Myawaddy di Myanmar, mulai berpindah ke Indonesia. Basis operasi kejahatan transnasional juga dilaporkan bergeser ke Filipina, Timor-Leste, Dubai di Uni Emirat Arab, dan Afrika Selatan.
Kepolisian saat ini tengah melakukan analisis forensik digital, menelusuri aliran dana, melacak server, dan mengidentifikasi dalang di balik jaringan tersebut. Polri berencana membentuk satuan tugas khusus untuk menangani ancaman kejahatan siber transnasional yang semakin berkembang di Indonesia.
Sumber: Channel News Asia, The Jakarta Post, Kompas
0 Comments