Harga Minyak Mentah Indonesia Melonjak ke US$117,31 per Barelnya, Tertinggi di 2026 Akibat Eskalasi Geopolitik
Jakarta, 19 Mei 2026 — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia mencatat lonjakan harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) ke level US$117,31 per barel pada April 2026, melampaui capian sebelumnya di US$102,26 pada Maret 2026. Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik yang terus berlanjut.
Dampak Terhadap Rupiah dan Ekonomi Indonesia
Menurut Tempo.co dan Reuters, lonjakan harga minyak ini memberikan tekanan berat pada rupiah Indonesia dan rupee India. Keduanya menjadi mata uang Asia yang paling tertekan akibat lonjakan harga energi global. Survei Reuters menunjukkan posisi short terhadap sebagian besar mata uang Asia lainnya justru menurun.
Kenaikan dari US$102,26 ke US$117,31 dalam satu bulan merupakan lompatan yang signifikan dan jauh melampaui asumsi APBN 2026 Indonesia yang menetapkan benchmark minyak di level lebih rendah.
Konflik Geopolitik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Penyebab utama kenaikan ini adalah ketegangan di Timur Tengah yang mengancam jalur pasokan minyak global, termasuk Selat Hormuz dan Laut Merah. Perang yang terus berlangsung di kawasan tersebut menciptakan ketidakpastian pasokan dan mendorong harga komoditas energi melonjak.
Dampaknya juga terasa pada sektor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia. Menurut Business Recorder, produksi CPO Indonesia tahun 2026 diperkirakan turun hingga 2 juta metrik ton akibat cuaca kering terkait El Nino dan kenaikan harga pupuk yang dipicu oleh perang di Timur Tengah.
Kesimpulan: Lonjakan harga ICP ke US$117,31 menjadi alarm bagi perekonomian Indonesia. Di satu sisi, negara produsen minyak mendapat keuntungan, namun sebagai negara net importer, Indonesia justru terbebani oleh biaya energi yang semakin tinggi. Bank Indonesia dan pemerintah perlu mengambil langkah antisipatif untuk melindungi daya beli masyarakat.
0 Comments