
Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026 Menjadi 4,7 Persen
JAKARTA — Bank Dunia (World Bank) resmi menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 4,7 persen. Penurunan proyeksi ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak sebagai akibat dari konflik di Timur Tengah, sebagaimana dilansir oleh Tempo.co English.
Proyeksi sebelumnya yang ditetapkan oleh Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia lebih tinggi, namun eskalasi geopolitik global dan dampaknya terhadap harga komoditas energi memaksa institusi keuangan internasional ini untuk merevisi angka pertumbuhan.
Dampak Kenaikan Harga Minyak terhadap Indonesia
Sebagai negara importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak mentah yang menembus level US$117 per barel dalam beberapa bulan terakhir telah memberikan tekanan signifikan terhadap defisit neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah merespons tekanan ini dengan menaikkan suku bunga acuan. Gubernur BI menyatakan bahwa kebijakan moneter ketat diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga BBM.
Outlook dan Rekomendasi
Bank Dunia dalam laporannya merekomendasikan agar Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto terus memperkuat reformasi struktural dan diversifikasi sumber energi. Kementerian Keuangan Indonesia dituntut untuk mengelola subsidi energi dengan lebih efisien.
Ekonom dari CSIS Indonesia dan Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai bahwa target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo menjadi semakin sulit dicapai di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu. Bank Dunia juga memproyeksikan bahwa kawasan Asia Timur dan Pasifik secara keseluruhan akan mengalami perlambatan pertumbuhan pada 2026.
Sumber: Tempo.co English, Katadata — 9 April 2026
0 Comments