
Korut Hadapi Kekeringan "Parah", Media Negara KCNA Laporkan Krisis Pangan Mengancam Jutaan Warga
PYONGYANG — Korea Utara menghadapi kekeringan yang digambarkan sebagai "parah" oleh media negara KCNA (Korean Central News Agency) pada 30 April 2026. Bencana ini diperkirakan akan memperburuk krisis pangan yang sudah lama melanda negara terisolasi tersebut.
Dampak pada Sektor Pertanian dan Ketahanan Pangan
Dilansir dari The Japan Times, kekeringan ini telah menyebabkan penurunan drastis pada level air di waduk-waduk utama di provinsi Pyongan Selatan, Hamgyong Selatan, dan Hwanghae Utara — wilayah yang menjadi pusat produksi pertanian Korea Utara.
Bencana kekeringan cenderung memiliki dampak yang lebih besar di Korea Utara karena infrastruktur yang lemah dan ekonomi yang rapuh. Sistem irigasi yang tidak memadai memperburuk situasi, sehingga petani kesulitan menjaga tanaman padi dan jagung yang menjadi sumber pangan utama.
Menurut laporan KCNA, otoritas di Pyongyang telah mengerahkan anggota Tentara Rakyat Korea dan Partai Buruh Korea untuk membantu upaya mitigasi, termasuk pembangunan sumur darurat dan distribusi air ke daerah-daerah terdampak.
Komunitas Internasional dan Respons Bantuan
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) telah meminta akses ke wilayah terdampak untuk melakukan penilaian kebutuhan. Namun, akses bantuan kemanusiaan ke Korea Utara selalu menjadi tantangan karena sanksi internasional dan kebijakan isolasi rezim Kim Jong-un.
Korea Selatan melalui Kementerian Unifikasi di Seoul menyatakan keprihatinan dan menawarkan bantuan kemanusiaan, meskipun respons dari Pyongyang belum diketahui. Sebelumnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung telah menyatakan keterbukaan terhadap dialog kemanusiaan dengan Korea Utara.
Kekeringan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Semenanjung Korea, termasuk peluncuran misil balistik dan uji coba senjata terbaru oleh rezim Pyongyang.
Sumber: The Japan Times, KCNA, FAO, Kementerian Unifikasi Korea Selatan
0 Comments