Pertamina dan Boeing Teken MoU Pengembangan Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan di Indonesia
PT Pertamina (Persero) dan Boeing Company menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mengeksplorasi peluang pengembangan industri Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia. Kesepakatan ini diumumkan pada 9 Juli 2026 dan dipandang sebagai langkah strategis menuju dekarbonisasi sektor aviasi.
Menurut laporan U.S. News & World Report, kerja sama ini bertujuan untuk membangun rantai pasok SAF yang berkelanjutan di Indonesia, negara dengan sumber daya alam melimpah yang dapat menjadi pusat produksi bahan bakar ramah lingkungan di Asia Pasifik.
Potensi Indonesia sebagai Pusat SAF
Indonesia memiliki potensi besar sebagai produsen SAF berkat ketersediaan bahan baku seperti minyak kelapa sawit, minyak jelantah, dan biomassa. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyambut baik inisiatif ini.
"Indonesia sudah memproduksi biodiesel B50 dan ini adalah langkah alamiah berikutnya. Kami ingin menjadi pemimpin dalam bahan bakar berkelanjutan," ujar Bahlil dalam konferensi pers di Jakarta.
Sementara itu, Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, menegaskan bahwa perusahaan akan mengalokasikan investasi signifikan untuk pengembangan SAF. "Pertamina berkomitmen untuk mendukung target net zero emission Indonesia pada 2060," katanya.
Dampak bagi Industri Penerbangan
General Manager Boeing Indonesia, Zaid Alami, menyatakan bahwa SAF dapat mengurangi emisi karbon hingga 80% dibandingkan bahan bakar jet konvensional. "Indonesia adalah pasar penerbangan yang berkembang pesat. Kemitraan ini akan membantu maskapai seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Citilink bertransisi ke energi yang lebih bersih," jelasnya.
Kerja sama ini juga mencakup studi kelayakan teknis, pengembangan regulasi, dan pelatihan sumber daya manusia di Kilang Pertamina Internasional. Jika berhasil, Indonesia dapat menjadi eksportir SAF utama di kawasan Asia Pasifik dalam dekade mendatang.
0 Comments