Australia: Pria Muda Jadi Sasaran Utama Sextortion Online, eSafety Terima 2.200 Pengaduan dalam 6 Bulan

Ilustrasi kejahatan siber di Australia

Lonjakan Kasus Sextortion Menargetkan Pria Muda Australia

Komisi eSafety Australia mengungkap data yang mengkhawatirkan terkait kejahatan sextortion online di negara tersebut. Dalam periode enam bulan hingga Desember 2025, komisi yang dipimpin oleh Komisaris eSafety Julie Inman Grant tersebut menerima lebih dari 2.200 pengaduan terkait pemerasan seksual online.

Yang mengejutkan, sekitar sepertiga dari total pengaduan tersebut berasal dari kelompok pria berusia 18 hingga 24 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa kelompok demografis yang sebelumnya dianggap kurang rentan ternyata menjadi target utama pelaku sextortion.

Modus Operandi Pelaku Sextortion

Para pelaku umumnya menggunakan platform media sosial dan aplikasi pesan untuk menjalin kontak dengan korban. Setelah berhasil mendapatkan konten intim korban — baik melalui rayuan maupun rekayasa sosial — pelaku mengancam akan menyebarkan materi tersebut ke keluarga, teman, atau rekan kerja korban kecuali sejumlah uang tebusan dibayarkan.

Menurut laporan The Japan Times, kasus sextortion ini sering kali melibatkan jaringan kriminal lintas negara yang beroperasi dari negara-negara di Asia Tenggara dan Afrika Barat. Australian Federal Police (AFP) telah bekerja sama dengan Interpol dan otoritas keamanan siber regional untuk mengidentifikasi dan menangkap pelaku.

Upaya Pencegahan dan Edukasi

Komisi eSafety telah meluncurkan kampanye edukasi nasional yang menargetkan kelompok usia muda. Program ini mencakup panduan tentang cara mengenali modus sextortion, langkah-langkah perlindungan data pribadi, dan prosedur pelaporan.

Julie Inman Grant menekankan pentingnya tidak membayar tebusan dalam situasi apapun. "Membayar tidak menyelesaikan masalah — justru membuat korban menjadi target berulang," ujarnya. Korban didorong untuk segera melapor ke eSafety.gov.au dan meminta bantuan untuk menghapus konten yang disebarkan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan siber tidak mengenal gender maupun usia, dan kesadaran digital menjadi kebutuhan mendesak di era konektivitas global.

Post a Comment

0 Comments