
AS Luncurkan Operasi Besar Pemberantasan Sindikat Penipuan Siber di Asia Tenggara, Senator Kamboja Dikenai Sanksi
BANGKOK — Pemerintah Amerika Serikat melalui Scam Center Strike Force mengumumkan operasi penindakan besar-besaran terhadap sindikat penipuan siber yang beroperasi di Asia Tenggara, khususnya di Kamboja dan Myanmar. Operasi ini dipimpin oleh Jaksa Wilayah AS untuk Distrik Columbia, Jeanine Pirro, yang menyebut kampanye ini sebagai "teater perang baru" melawan kejahatan transnasional Tiongkok.
Senator Kok An Jadi Target Utama
Target paling menonjol dalam operasi ini adalah Kok An, seorang senator Kamboja dan pengusaha terkemuka yang digambarkan oleh Departemen Keuangan AS sebagai "raja pusat penipuan" (scam center kingpin). Office of Foreign Assets Control (OFAC) menjatuhkan sanksi terhadap Kok An dan 28 orang serta perusahaan lainnya yang diduga terlibat dalam jaringan yang telah menipu warga AS senilai jutaan dolar.
Juru bicara Senat Kamboja, Chea Thyrith, menyatakan bahwa Kok An memiliki kekebalan parlementer sebagai senator terpilih. "Yang Mulia Kok An adalah senator Kamboja yang dipilih melalui pemilu, dan sebagai senator ia memiliki kekebalan parlementer," ujarnya.
Bukti Masif dari Pusat Penipuan yang Ditinggalkan
Pirro mengungkapkan bahwa operasi ini dipicu setelah agen FBI yang dikirim ke Thailand mengakses bukti dalam jumlah besar dari pusat penipuan yang ditinggalkan di Myanmar, termasuk lebih dari 8.000 telepon dan 1.500 komputer. Dua warga negara Tiongkok, Huang Xing Shan dan Jiang Wen Jie, yang merupakan manajer kompleks tersebut, kini ditahan oleh otoritas Thailand dan sedang diusulkan untuk diekstradisi ke AS.
Menurut FBI, warga AS kehilangan hampir $21 miliar akibat kejahatan siber dan penipuan online sepanjang tahun 2025. Industri ilegal ini terkait erat dengan perdagangan manusia, di mana warga negara asing dipaksa bekerja dalam kondisi perbudakan untuk menjalankan skema romansa dan penipuan kripto.
Sumber: Associated Press (AP), Daily Press, US News, April 2026.
0 Comments