
Korut Kecam PM Takaichi Terkait Persembahan Ritual ke Kuil Yasukuni
PYONGYANG/TOKYO — Korea Utara pada Sabtu (25/4/2026) mengkritik keras Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang mengirimkan persembahan ritual ke Kuil Yasukuni yang kontroversial di Tokyo, menyebutnya sebagai "tantangan terhadap keadilan internasional."
Takaichi mengirimkan persembahan tersebut pada Selasa pekan ini ke Yasukuni Shrine, kuil yang menghormati arwah prajurit Jepang yang gugur dalam perang, termasuk 14 penjahat perang Kelas A yang dihukum oleh kekuatan Sekutu setelah Perang Dunia II. Sejumlah politisi Jepang terkemuka lainnya juga mengunjungi kuil tersebut.
Tuduhan Distorsi Sejarah
Dalam sebuah artikel di surat kabar resmi Rodong Sinmun, Korea Utara menyatakan: "(Ini) adalah distorsi sejarah yang mencolok dan tantangan terhadap keadilan serta perdamaian internasional. Ini adalah tempat untuk menghormati para agresor dan penjahat perang yang menyebabkan penderitaan yang tidak dapat disembuhkan."
Surat kabar tersebut menuduh Tokyo berusaha "menyebarkan" militarisme melalui kunjungan-kunjungan ke kuil, dan menyerukan agar Jepang bertanggung jawab atas masa lalunya. Pernyataan ini mencerminkan eskalasi retorika diplomatik di Asia Timur Laut yang terus memanas.
Konteks Historis dan Reaksi Regional
Kuil Yasukuni telah lama menjadi sumber ketegangan diplomatik di kawasan. Korea Selatan, yang berada di bawah penjajahan Jepang dari tahun 1910 hingga 1945, serta Tiongkok, yang diinvasi oleh Jepang selama Perang Dunia II, secara konsisten menganggap kunjungan politisi Jepang ke kuil tersebut sebagai upaya mengagungkan masa lalu militaristik Jepang.
Politisi Jepang telah menghadapi kritik berulang kali karena mengirimkan persembahan atau mengunjungi kuil ini. Kunjungan terakhir Takaichi ke kuil, dalam bentuk persembahan ritual, menambah daftar panjang insiden yang memicu ketegangan diplomatik antara Jepang dengan negara-negara tetangganya.
Analis dari East Asian Institute mencatat bahwa ketegangan ini terjadi di saat hubungan Jepang-Korut sudah berada di titik terendah, mengingat Korut baru-baru ini melakukan uji coba rudal balistik berhulu ledak cluster di Laut Jepang. Situasi ini menambah kompleksitas lanskap keamanan regional yang sudah rapuh.
0 Comments