
Sri Lanka Alami Lonjakan Cybercrime Akibat Relokasi Jaringan Scam
Sri Lanka menghadapi lonjakan signifikan kasus kejahatan siber (cybercrime) setelah jaringan penipuan daring (scam) mulai memindahkan operasi mereka dari Asia Tenggara ke negara tersebut. Laporan The Guardian mengungkap peningkatan aktivitas scam yang mengkhawatirkan di Sri Lanka.
Relokasi Jaringan Scam dari Asia Tenggara
Menurut laporan yang diterbitkan oleh The Guardian, jaringan penipuan daring yang sebelumnya berbasis di Kamboja, Myanmar, dan Laos mulai memindahkan operasi mereka ke Sri Lanka setelah tekanan penegakan hukum di Asia Tenggara meningkat. Pemerintah Sri Lanka, melalui Kepolisian Sri Lanka dan Sri Lanka Computer Emergency Readiness Team (SL-CERT), mengonfirmasi peningkatan signifikan laporan kasus penipuan investasi daring dan love scam yang menargetkan korban di seluruh dunia.
Komisaris Polisi Sri Lanka, Deshabandu Tennakoon, menyatakan bahwa pihaknya telah mengidentifikasi setidaknya 12 lokasi yang diduga digunakan sebagai pusat operasi scam di wilayah Colombo, Kandy, dan Galle. Ratusan warga asing, termasuk dari China, India, dan Bangladesh, diduga direkrut untuk menjalankan operasi penipuan tersebut.
Dampak dan Upaya Penanganan
Lonjakan cybercrime ini berdampak pada reputasi Sri Lanka sebagai tujuan investasi dan pariwisata. Bank Sentral Sri Lanka melaporkan peningkatan transaksi mencurigakan yang melibatkan rekening bank lokal. Pemerintah Sri Lanka, bekerja sama dengan Interpol dan Unit Cybercrime ASEAN, berupaya memperkuat regulasi keamanan siber dan meningkatkan patroli digital.
Direktur Eksekutif UNODC, Ghada Waly, menekankan pentingnya kerja sama regional untuk memberantas jaringan kejahatan siber lintas batas. Sri Lanka kini berada dalam pengawasan ketat komunitas internasional terkait penanganan darurat cybercrime ini.
Sumber: The Guardian, UNODC, Interpol
0 Comments