Sebuah kunjungan ke McDonald’s berujung pada perjalanan ke rumah sakit bagi satu keluarga, setelah putri mereka yang berusia tiga tahun mengalami luka lepuh di lidah akibat air panas.
Dalam sebuah unggahan Facebook pada Rabu (4 Februari), mantan pesepak bola nasional Ridhuan Muhamad (41) membagikan bahwa mereka mengunjungi gerai makanan cepat saji tersebut di Ridout Tea Garden, Queensway, pada 1 Februari.
“Apa yang seharusnya menjadi kegiatan biasa berubah menjadi kunjungan ke rumah sakit setelah putri saya secara tidak sengaja diberikan air mendidih, bukan air dingin seperti yang kami minta,” tulisnya.
Ia menambahkan bahwa setelah minum dari botol minum berinsulasi tersebut, putrinya langsung menangis kesakitan dan ketakutan. Anak itu juga “tidak bisa makan atau minum dengan normal” dan kini “mengalami trauma saat melihat botol minumnya”.
Video yang diunggah dalam postingan tersebut memperlihatkan sang anak yang menangis, serta petugas medis yang menangani dirinya. Dalam video itu, terdengar seorang perempuan mengatakan bahwa anak tersebut “menggigil karena kesakitan” setelah minum dari botol tersebut.
Saat berbicara kepada AsiaOne, Ridhuan mengatakan bahwa ia mendatangi konter pengambilan makanan dan meminta seorang staf untuk mengisikan botol dengan air dingin.
“Area pengisian tidak terlihat, dan ketika botol dikembalikan kepada saya, tidak ada peringatan secara lisan. Saya mengira isinya air dingin, sesuai permintaan,” tulisnya, sambil menambahkan bahwa “tidak ada konfirmasi yang dilakukan” sebelum botol diisi.
Pelatih sepak bola penuh waktu itu juga menjelaskan bahwa botol tersebut adalah botol minum berinsulasi dengan sedotan, bukan termos vakum.
Menurut Ridhuan, staf yang bersangkutan awalnya mengklaim bahwa ia meminta air panas, namun kemudian mengakui bahwa “ia tidak mendengar dengan jelas”.
“Jika bukan karena sikap ceroboh dan kelalaian staf tersebut, kejadian ini sebenarnya bisa dihindari,” lanjutnya dalam pernyataannya kepada AsiaOne.
Namun demikian, ia juga mengakui bahwa sebagai orang tua, mereka turut berperan dalam terjadinya insiden tersebut karena tidak memeriksa isi botol sebelum memberikannya kepada anak mereka.
“Syukurlah, kondisi anak kami sekarang stabil. Namun kami benar-benar berharap pihak gerai menanggapi hal ini dengan serius dan memperbaiki prosedur pemeriksaan agar kejadian serupa tidak menimpa anak lain. Kesalahan kecil bisa menyebabkan dampak yang besar,” ujarnya.
Dalam komentar di unggahan tersebut, istri Ridhuan menjelaskan bahwa selama empat tahun menjadi orang tua, itu adalah pertama kalinya mereka membiarkan orang asing menangani barang milik anak-anak mereka.
“Namun pada saat yang terburu-buru itu, ketika anak [yang lebih besar] menangis minta air, anak yang lain rewel, dan semua orang berusaha membantu, kami mengambil keputusan yang biasanya tidak akan kami ambil.”
Ia menegaskan bahwa tujuan mereka bukan untuk sepenuhnya menyalahkan pihak gerai makanan cepat saji tersebut.
“Kami tidak pernah mengatakan bahwa pihak gerai sepenuhnya bersalah. Kami mengakui bahwa kami juga melakukan kesalahan. Kecelakaan bisa terjadi, bahkan pada orang tua yang berhati-hati.”
Ridhuan mengatakan kepada AsiaOne bahwa putrinya membutuhkan hampir empat hari untuk pulih.
“Selama dua hari pertama, ia tidak bisa minum susu atau makan dan terus meminta es batu untuk ditempelkan ke lidahnya guna meredakan rasa sakit. Baru setelah tiga hari ia perlahan mulai bisa minum lagi dan makan sedikit demi sedikit.”
Ia menutup unggahannya dengan mengatakan bahwa ia membagikan kejadian tersebut sebagai peringatan bagi orang lain.
“Kami membagikan cerita ini dengan harapan agar para orang tua dan pihak gerai bisa lebih berhati-hati, sehingga tidak ada anak lain yang harus mengalami apa yang dialami putri kami. Terkadang, pelajaran yang paling menyakitkan membuat kita menjadi lebih waspada ke depannya.
“Ini juga menjadi pengingat yang menyakitkan bagi para orang tua — selalu periksa ulang minuman yang diberikan kepada anak-anak kita.”
Ridhuan juga mengatakan kepada AsiaOne bahwa manajer restoran tersebut telah menghubungi mereka untuk menanyakan kondisi putrinya. Keluarga tersebut juga ditawari 10 kartu “Be Our Guest” — yang diduga dapat digunakan untuk penukaran menu gratis — yang dikirim ke alamat mereka sebagai bentuk itikad baik.
Dalam tanggapan kepada pertanyaan AsiaOne, juru bicara McDonald’s menyatakan bahwa mereka mengetahui insiden tersebut dan “menanggapi masalah ini dengan serius”.
“Tinjauan awal kami menunjukkan adanya kesalahpahaman di titik layanan terkait permintaan air panas atau air dingin,” ujar juru bicara tersebut, seraya menambahkan bahwa mereka telah menghubungi Ridhuan untuk menawarkan bantuan dan dukungan.
“Keselamatan dan kesejahteraan pelanggan adalah prioritas kami. Kami sedang meninjau kejadian ini bersama tim restoran untuk memperkuat prosedur layanan dan memperjelas komunikasi, khususnya saat menangani barang atau minuman panas.”

0 Comments