
Operasi Antarnegara Pertama untuk Berantas Perdagangan Narkoba di Asia Tenggara
HANOI/PHNOM PENH — Kerja sama quadrilateral yang melibatkan Vietnam, China, Laos, dan Myanmar akan menggelar kampanye anti-narkoba selama tiga bulan yang bertujuan memberantas perdagangan narkoba lintas batas di Asia Tenggara.
Operasi ini diumumkan di Hanoi pada 2 Juni 2026 dan akan berjalan dari 15 Juni hingga 15 September 2026 di seluruh provinsi dan kota perbatasan di keempat negara yang berpartisipasi, sebagaimana dilaporkan The Star dan Bernama.
Latar Belakang: Krisis Narkoba yang Meningkat
"Keempat negara tetangga yang berbagi perbatasan dan memegang posisi strategis penting di kawasan ini menghadapi dampak langsung dari aktivitas kejahatan narkoba yang semakin kompleks," ujar Wakil Menteri Keamanan Publik Vietnam, Senior Lt Gen Nguyen Van Long, seperti dikutip dari Vietnam News.
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran atas perdagangan narkotika dan prekursor kimia serta produksi narkoba yang terus menantang upaya regional untuk mengamankan perbatasan dan kota-kota.
Pengungkapan Besar di Vietnam
Kerja sama regional ini muncul beberapa minggu setelah otoritas Vietnam menyita 50 ton kafein yang diyakini digunakan untuk produksi narkoba sintetis pada Mei 2026. Sindikat transnasional ini diduga dipimpin oleh seorang profesor farmasi asal Vietnam.
Tahun lalu, Vietnam menangani 21.998 kasus terkait narkoba dan menangkap 44.354 tersangka, serta menyita heroin, ganja, dan narkoba sintetis dari para pelaku.
Data UNODC: 236 Ton Sabu Disita di Asia Timur dan Tenggara
Pada tahun 2024, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) melaporkan bahwa 236 ton metamfetamin disita di Asia Timur dan Tenggara — meningkat 24 persen dibanding tahun 2023.
"236 ton ini hanya jumlah yang disita; jauh lebih banyak metamfetamin yang sebenarnya mencapai pasar," ujar Perwakilan Regional UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik, Benedikt Hofmann.
Hofmann menambahkan bahwa level produksi dan perdagangan metamfetamin dari Golden Triangle, khususnya di Shan State, Myanmar, telah mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sumber: The Star Malaysia, Bernama, Vietnam News, UNODC
0 Comments